Tunggu Aku, di Kotamu.

By. Andika Sukandi

Di pojok bangku sebuah angkot, Ferdian duduk dan merebahkan rasa lelahnya dengan menyandar ke samping, di kaca besar belakang mobil. Perjalanan menuju tempat tinggalnya masih terasa jauh. Kemudian, dia mencoba memalingkan pandangan untuk membunuh waktu dengan melihat berbagai macam kendaraan berkerumun tak teratur. Entahlah, mereka selalu terlihat terburu-buru. Sebuah pemandangan seperti biasa dilihat di jalan raya setiap hari.

Pikirannya mulai terganggu saat beberapa motor dengan lihainya berzig-zag ria memotong jalur kendaraan didepannya tanpa lampu sen permisi. Seperti tak mempuyai etika sopan santun berkendara.

Seperti halnya angkot yang sedang ia tumpangi. Kenyamanan berkendara yang sedang dinikmati mulai terganggu oleh laju kendaraan yang tidak stabil. Ia langsung menatap sang supir sedang memaksa kendaraanya mendahului angkot dengan jurusan yang sama di depannya dengan kecepatan tinggi. Ferdian hanya menghela nafas dan mengutuk mereka dalam hati, ”Dasar supir angkot!!! ga ada bedanya ama supir bis.”

Ferdian langsung menyelipkan dua benda kecil di kedua lubang telinganya, membiarkan alunan musik sejenak menenangkan hati di ketegangan pacuan kuda besi yang sedang di tunggangi. Tetapi, alunan itu langsung berhenti mendadak.

“Siaaaal, ngedrop lagi batrenye!!!” sambil mencaci hapenya.

Cacian Ferdian membuat orang di depannya langsung melihatnya. Orang itu langsung menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Ferdian yang lagi kesal dan juga sedikit tersenyum melihat hape Ferdian yang mempunyai gantungan hape yang aneh. Gantungan itu sebuah tali kecil dari teh celup yang digunakan untuk menyeduh teh.

Ferdian tak memperdulikan orang di depannya dan dia dengan terpaksa harus “menikmati” pacuan ini sambil melihat sang joki dengan cekatan mengendalikan lingkaran bundar tepat di depannya dan sebelah tangannya tergenggam setumpuk uang ribuan, lima ribuan dan sepuluh ribuan.

“Takut ilang bang, dipegang melulu tuh duit!!” ledek Ferdian.

Akhirnya, angkot itu pun berhasil mendahului angkot di depannya dan mulai menambah kecepatan untuk menghindari kejaran angkot yang sama dan kini ada di belakang angkotnya. Ferdian mulai bergoyang kedepan, kesamping, kebelakang mengikuti cepatnya laju zig-zag goyangan sang angkot.

“Bujuk buneng, goyangan Dewi Persik kalah nih.” Celetuk Ferdian.

Lalu, ada sebuah kendaraan pribadi di depan yang sedikit menghalangi dan berjalan pelan. Ini membuat laju angkot tersendat. Sang joki pun menekan klakson berulang-ulang kali agar mobil pribadi yang ada di depan untuk minggir. Namun, mobil tersebut mengacuhkan bunyi klakson tersebut. Sang joki mulai menekan klakson kembali secara konstan dan menimbulkan suara yang sangat nyaring dan memekakkan telinga.

Tak disangka, kaca samping mobil pribadi tersebut terbuka dan seonggok tangan keluar dan mengacungkan jari tengah kepada sang joki. Ferdian kini melihat bahasa tubuh sang joki mulai mengekspresikan kemarahan dan kata-kata yang berhubungan dengan penghuni kebun binatang termuntahkan dari mulut sang joki. Ferdian lalu memalingkan pandangannya kearah berlawanan. Angkot yang telah tersusul kini tepat dibelakang.

Tiba-tiba, semua kebisingan tersebut sirna dan laju angkot mulai melaju pelan seperti melihat sosok yang menakutkan dan siap menerkam. Ternyata, sebuah kendaraan terlihat oleh Ferdian dari sela-sela kaca mobil yang terbuka. Sebuah kendaraan tepat disamping yang bertuliskan “polisi” dibody mobil tersebut.

“Mmmmm…kalo ada mereka aje jalan pelan-pelan kaya nenek-nenek baru belajar nyetir mobil.” ledeknya lagi.

Untunglah balapan liar pun berakhir……untuk sementara……

Tak disadari oleh Ferdian, angkot mulai penuh dengan penumpang, karena dia sedikit terdesak kepojok karena kapasitas yang seharusnya empat orang dalam satu bangku, malah terisi oleh lima orang.

“Edaan, gw udah kaya ikan teri dikaleng” benaknya bergumam.

Ferdian melihat sang joki masih tetap saja mencoba mencari penumpang lagi di sepanjang jalan. Walaupun kapasitas sudah melebihi batas yang tersedia.

“Ya elah bang, mau ditaro dimane, di pantat abang!!” kesalnya.

Hawa panas pun mulai hinggap di seluruh kulit Ferdian, air keringat pun mulai mengucur tak terkendali dan bau tak sedap itu kini menguap menuju hidung orang di samping Ferdian. Orang itu mencoba menutup hidung dengan pelipis jarinya, namun bau badan yang belum mandi ini, masih tetap saja menusuk indra saraf penciuman karena baunya seperti bau spiteng tujuh rupa.

“Kalo gw punya kendaraan, ga bakalan kaya gini setiap hari pulang kampus. Udeh ongkos mahal. Pantes aja mereka pada beli motor ama mobil biar irit, cepet and ga usah desek-desekan” logika Ferdian berbicara.

“Mungkin ini yang disebut dengan efek domino kali yah, orang-orang beli ataupun kridit kendaraan, biar kaga kaya gini. Efek sampingnya para penumpang berkurang karena udah punya kendaraan sendiri. Ujung-ujung tuh para supir angkot lomba-lomba cari penumpang yang tersisa biar bisa dapet setoran buat juragan angkot ama buat anak bininya, sampe-sampe kaga ngitungin keselamatan mereka ama penumpang yang mereka bawa. Bahkan keselamatan pengguna jalan lainnya” analisa Ferdian pun ikutan berbicara.

Kemudian, hati nuraninya tak mau ketinggalan untuk berkomentar, “Gile bener nih, di atur dong angkot di jalanan, pada ugal-ugalan ga karuan. Apalagi mereka kan ikut andil menyumbang kemacetan di jalanan. Seharusnya, lebih tegas lagi petugasnya.”

Renungan kecil mereka tiba-tiba terganggu karena melihat seorang mahluk berkulit putih bersih yang baru naik dan duduk tepat di depan Ferdian. Wajahnya seperti Dewi Sandra dan mempunyai daya tarik seperti Aura Kasih. Inilah yang membuat suasana yang tidak nyaman dalam angkot ini menjadi tambah tidak nyaman, karena ia mulai merasakan rasa mules di perut karena melihat mahluk itu.

“Aduuuh, tambah lagi deh penderitaan gw” lirih Ferdian yang kini memegangi perutnya untuk menahan rasa sakit.

Ternyata, Ferdian mempunyai penyakit yang super aneh, dia akan merasa mules jika melihat wanita cantik dan manis. Penyakit ini muncul saat dia masih SMA. Waktu itu ia tidak sempat “nyetor” ke kamar mandi saat pagi hari, karena ia terburu-buru pergi ke sekolah. Saat di angkot, ia mulai merasa mules melihat wanita cantik di depannya. Sama seperti halnya saat ini. Alam bawah sadarnya membawa dia kedalam sugesti yang membuat sel sarafnya menciptakan rasa perih di perut Ferdian.

Mahluk itu mulai menyadari cowo yang ada didepannya sedang terlihat kesakitan dan membuat iba.

“Kamu kenapa?” tanya mahluk itu.

“Ga apa-apa” ucap Ferdian dengan refleks melihat wajah yang menegurnya. Namun Ferdian merasakan rasa sakitnya mulai menambah.

“Aduuh, ngapain gw ngeliat mukanya sih” hati Ferdian berkata.

Penyiksaan itu belum selesai, karena dia merasakan laju angkot menambahkan kecepatannya. Ferdian langsung mencari-cari mobil yang bertuliskan “polisi”. Tetapi, mobil itu telah belok ke jalur lain dan hanya ia pandangi dari kejauhan dengan lemah lunglai tak berdaya. Kini goyangan laju kendaraan tak terkendali dan pacuan kuda besi pun dimulai kembali.

Sang angkot kini menyalip mobil di depannya. Namun dari arah berlawanan, sebuah truk besar melaju tepat ke arah angkot. Klakson dari truk besar itu terdengar nyaring dan membuat seluruh peumpang angkot berteriak histeris mengucapkan ayat-ayat suci karena mereka membayangkan ciuman maut yang akan menimpa mereka. Namun, hanya Ferdian yang berteriak berbeda dengan penumpang lainnya.

“Aaaaaaaaaah…gw belum kawiiiiin!!!”

***

Suasana terminal kota hujan ini terasa seperti terminal lainnya. Penuh dengan lalu lalang angkot dan bis keluar masuk terminal. Hanya ada satu yang berbeda dalam suasana tersebut, seseorang yang berdiri dengan gemetar dan merasakan detak jantungnya yang masih berdegup kencang setelah ia turun dari kendaraan yang telah di naikinya, plus rasa sakit perut yang mulai mereda.

“Gilaaa, gw abis becanda dengan maut” ujar Ferdian sambil mengingat angkot yang dinaikinya hampir berciuman maut. Tapi untungnya, sang joki tepat waktu menghindar dari ciuman itu.

Ferdian langsung mengatur nafasnya sambil merasakan udara sejuk menerpa wajahnya sambil menatap langit yang tertutup awan. Namun, relaksasi Ferdian terganggu oleh sebuah teguran dari arah belakangnya.

“Hey, kamu ga apa-apa”

Ferdian langsung menengok dengan refleks, Namun, rasa sakit itu mulai kembali menjalar di perutnya.

“Aku ga apa-apa” jawab Ferdian yang langsung memalingkan pandangannya.

“Syukur deh” ucapnya dengan tersenyum. “Oh iya, aku Zahra. aku lagi liburan disini”

“Ferdian.” sambil membalas salam darinya tapi tidak berani melihat wajah wanita ini. Ia hanya melihat tas backpack yang besar tepat di depan wanita itu.

“Mmm…kamu anak backpacker yah” tanya Ferdian.

“Yaaa seperti itulah. Oh iya, kamu asli dari sini”

“Iya, saya tingal kota ini”

“Waaah kebetulan.” ucapnya dengan wajah merekah. “Kalo gitu, mau bantuin aku ga?”

“Bantuin?” tanya Ferdian lagi.

“Iya”

“Baru kenal tapi minta bantuan orang?” tanya hati Ferdian.

“Iya, jadi gini. Setiap kota yang aku kunjungi, aku selalu mencari seseorang dari kota yang aku kunjungi untuk menjadi teman.”

“Mencari teman?”

“Iya, itu adalah tujuan aku menjadi backpacker dan juga melihat keunikan dari setiap daerah”

“Mmmm…boleh. Mau bantuin apa?”

“Kalau kamu punya waktu, mau ga nunjukin tempat-tempat yang unik dari kota kamu ini”

Ferdian sedikit ragu menjawabnya. di satu sisi, dia harus menahan rasa sakinya jika ia selalu dekat wanita cantik ini, Tapi di satu sisi, ada aura yang keluar dari Zahra yang tak bisa Ferdian tolak.

“Oke” Jawab Ferdian.

“Waaahh…thank you yah”

“Yup, sama-sama”

“Mmm…kalo begitu, kita mulai darimana?”

Ferdian langsung berfikir. Ia mulai mengatur rute yang paling pas dari posisi mereka berada sekarang.

“Oke, deket sini ada icon yang terkenal”

“Yup, show me the way”

Dari terminal, mereka kini menyusuri trotoar yang dihiasi oleh pedagang kaki lima. Diantaranya ada yang menjual tales, asinan, dan sebagainya.

Tak lama berjalan, mereka pun sampai di pertigaan. Di tengah pertigaan tersebut, terdapat sebuah tugu yang di atasnya terdapat sebuah senjata tajam seperti celurit.

“Ini yang namanya tugu kujang”

“Oooh ini yang namanya tugu kujang” Ucap Zahra memandangi tugu tersebut.

Zahra langsung mengambil kamera digital dari tas pinggangnya, lalu mengambil gambar tugu tersebut kemudian mereka photo bersama dengan latar belakang ciri khas kota ini.

“Terus kita mau kamana lagi?” tanya Zahra

“Mmmm….kita nyebrang, terus kita jalan menyusuri jalan itu”

“Oke”

Mereka langsung menyebrang dan menyusuri trotoar dengan sejuknya payung dari rindang pohon. Kemudian mereka melihat sebelah kanan, ada sebuah pintu jembatan penyebrangan bawah tanah. Lalu mereka menyusuri lagi jalan itu yang kini menunjukan sebuah pintu masuk gerbang yang dihiasi oleh kubah kecil ditopang beberapa pilar.

“Itu salah satu pintu masuk ke kebun raya bogor. Tapi karena hari biasa, pintu itu ditutup, hanya pada hari libur, pintu dibuka”

Setelah mendengar penjelasan dari Ferdian, Zahra malah tertarik melihat kesebrang jalan. Ia melihat sebuah gedung yang cukup tua.

“Oooh, itu kampus IPB”

“Old school banget”

“Yup”

Zahra langsung membidik gedung itu dan juga pintu masuk kebun raya tersebut, plus mereka berfoto bersama. Beberapa menit mereka bernarsis ria, mereka pun melanjutkan menyusuri jalan sambil melihat berbagai macam bangunan di kanan dan kiri mereka.

Setengah jam berjalan, mereka kini sampai di depan sebuah gedung berwarna putih yang dikelilingi oleh halaman rumput yang luas dan juga pohon-pohon rindang. Namun ada yang berbeda dalam halaman tersebut. yaitu sekumpulan kijang yang cukup banyak terhampar di halaman tersebut.

“Ini yang namanya istana bogor”

“Wooow…keren” ucap Zahra sambil mengarahkan kamera digitalnya.

Ferdian masih tetap memalingkan wajahnya dari gadis ini dan sifatnya yang urakan tertahan karena menahan sakit. Namun, pandangan yang dialihkan malah menuju sekumpulan wanita-wanita cantik dengan bergerombol menuju arah Ferdian. Ternyata para wanita ini adalah para model yang sedang melakukan sesi pengambilan gambar dengan background gedung ini. Dengan spontan, perut Ferdian merasakan sakit yang amat sangat, karena melihat puluhan gadis yang cantik melewatinya. Rasa sakit itu membuat Ferdian terjatuh ke trotoar sambil memegangi perutnya. Zahra yang melihat teman barunya itu, langsung mendekati Ferdian yang di ikuti oleh para model mendekati Ferdian karena rasa ingi tahu, mengapa Ferdian langsung terkapar. Zahra dan para wanita cantik ini mengelilingi Ferdian. Rasa sakit tambah kembali dan Ferdian tak bisa menahan rasa sakit itu yang memuatnya tak sadarkan diri.

***

Terdengar suara pelan memanggil-manggil dalam gendang telinga Ferdian. Ia mulai membuka matanya, namun pandangannya masih kabur, ia hanya melihat seseorang tepat di depannya.

Tak lama kemudian, pandangan Ferdian mulai jelas, ternyata ia sedang melihat seorang wanita berkulit putih. Rambutnya lurus terurai di pundaknya. Matanya berwarna coklat memancarkan kehangatan. Hidungnya mancung itu, membawa pandangan Ferdian ke arah bibirnya yang kecil berwarna merah muda merekah.

“Kamu ga apa-apa?” tanya Zahra dengan kawatir.

Ferdian tidak menjawab, dia hanya melihat sekelilingnya. Mencari tahu dimana dia berada.

“Kamu lagi di pos polisi, kamu tadi langsung pingsan.”

Ferdian langsung memegang kepalanya lalu menatap gadis ini cukup lama. Tak berapa lama, ia langsung memegang perutnya. Ia tidak merasakan rasa sakit itu lagi. Rasa sakit yang selalu menghantui beberapa tahun dalam hidupya. Ferdian menatap lagi wajah gadis itu tanpa merasakan rasa sakit. Ia menatapnya dengan tesenyum sambil berkata sesuatu yang tak pernah ia katakan kepada seorang wanita dengan menatap wajahnya secara langsung.

“Kamu cantik”

***

Beberapa hari berlalu, penyakit yang di derita Ferdian telah hilang, karena akumulasi rasa sakit terkumpul dalam satu moment dan Ferdian kini sedang mengantar Zahra ke tempat dimana ia pertama kali mereka bertemu.

“Thanks yah, udah nemenin aku beberapa hari ini”

“Aku malah yang terima kasih, gara-gara kamu penyakitku sudah sembuh”

Zahra langsung tertawa mengingat hal itu. Hal yang paling aneh yang pernah ia dengar dan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat dia bersama dengan Ferdian.

Entah kenapa, mereka langsung bertatapan dengan rasa yang berbeda. Rasa yang tak bisa dijabarkan oleh kata-kata.

“Mmm…aku pergi dulu yah. Sampai ketemu” ucap Zahra sambil melihat bis yang akan membawanya pergi.

“Oke, sampai ketemu bulan depan” ucap Ferdian dengan yakin.

“Bulan depan?” ucap Zahra dengan ekspresi wajah kaget.

“Iya, bulan depan aku libur kuliah. Aku juga pingin merasakan jadi backpacker dan kota pertama yang aku ingin tuju adalah kota kamu” Ferdian meraih tangan Zahra sambil menatapnya dengan rasa itu.

Zahra langsung tersenyum. Ia langsung mendekati wajah Ferdian dan mencium pipinya sambil berkata di dekat telinga Ferdian.

“Ku tunggu kata cintamu, di kotaku”

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>