Terima Kasih Maya

By. Andika Sukandi

“Siapa nih yang add gw?”
Ujarku saat melihat one friend request di FBku.
Karena penasaran, ku klik portal tersebut dan terlihatlah foto wajah yang membuatku sedikit teriak.
“Oh my God, dia add gw!!”
Jantungku langsung berdentum dengan cepat, seperti layaknya ditabuh oleh double pedal drum yang biasa aku mainkan.
“Klik”
Terdengar suara mouse yang menarik simpul di bibirku saat meng-accept-nya. Tak lama kemudian, ternyata sebuah pesan kecil muncul di monitor laptopku.

Deny
hai nyit…
gimana kabarnya?

“Dia online juga” ujarku dengan antusias dan langsung membiarkan jari-jari ini bernari dengan indah di atas keyboard membalas chatnya.

anita
haiii den, kabar baik…. ciyeee pengen eksis yah

Deny
ya gitu deh… he7
udah berapa lama yah kita ga ketemu?

Anita
kalo ga salah sekitar tiga tahun deh. pas kamu dapet kuliah di yogyakarta, aku malah dapet di Bogor.

Deny
yup, ga terasa yah udah tiga tahun…
nyit, masih gebukin drum?

Anita
Yup, masih dong Den.
jadi kangen ama lo nih?

Deny
Kangen ama gw?

Anita
Bukan-bukan, aku salah ngetik…
maksud aku kangen ngeband lagi ama kamu Den. Cuma permainan bass kamu yang klop ama permainan drumku,

Deny
kalo kangen bilang aja, ga usah malu..he7

Anita
yeeee….ge er banget sih…
oh iya, bulan depan aku manggung di sekolah SMA kita dulu. band kita diundang jadi bintang tamu oleh panita acara pensi. dateng yah?

Deny
waduh, aku ga bisa nyit. aku lagi sibuk bikin tugas akhir.
tapi liat nanti deh..

Anita
oh gitu, ya udah ga pa2 sih kalo ga bisa, ga usah dipaksain, lagian kan jarak antara bogor dan yogyakarta kan lumayan jauh

Deny
oh iya, emang kamu masih ngeband ama mereka?

Anita
yup, masih sama mereka, Cuma posisi kamu yang dulu megang bass diganti sama orang lain.

Deny
oh gitu..
aduh nyit, batre laptop gw mau abis. Nanti disambung lagi yah.
bye

Anita
See ya

Aku langsung teriak tak percaya, perasaan yang pernah kujalin dengannya selama SMA, kini mulia berontak melepaskan kenangan indah di sela-sela pikiranku. Walaupun, kita telah putus dengan baik-baik setelah lulus SMA karena jarak antara bogor dan yogya, tapi perasaan itu tetap tersimpan rapi di hatiku. Rasa senang yang amat sangat ini, kini  menggelayut di senyumku yang mengembang tak henti-hentinya seperti …
“ketawa ketiwi kaya orang gila!!” ujar ibuku membuyarkan kegembiraanku.
“Aduh mama, ngagetin aja.” ujarkku protes.
“Kamu dari siang sampai malem gini masih aja di depan komputer. Mandi dulu sana, terus makan malem. Udah mama siapin tuh di meja makan?” perintah ibuku.
“Tapi mah, tanggung nih”
“Udah cepetan!!” sambil menarik tanganku.
“Dikit lagi” kusedikit menolak
“Ya ampun, setiap hari berantem melulu nih berdua” ujar ayahku dari depan pintu kamar tidurku sambil melepaskan dasi dari kemejanya. Ternyata ayahku baru saja pulang.
“Liat anakmu nih. Dari pulang kuliah sampai sekarang main internet terus.” lapor ibuku.
“Nita, mandi dulu sana terus makan bareng sama ayah.” ucap ayahku dengan tenang tapi kata-katanya seolah-olah membuatku tak sanggup menolaknya.
“Iya-iya” aku pun langsung melog-out dan memaksakan diri bangun dari tempat dudukku.
“Memang kamu lagi buka apa di internet sampai kamu kecanduan begitu?” tanya ayahku penasaran sambil masuk ke kamarku dan melihat layar laptopku.
“Buka FB” jawabku.
“Oooh” ujar ayahku sambil duduk tepat di depan laptopku dan ayahku malah log in di FB.
“Mantan-mantan ayah yang dulu, eksis juga ga yah di sini?” ujar ayahku sambil mengklik find friends.
“aooooow” tiba-tiba ayahku teriak.
ternyata kuping ayahku sedang dijewer oleh ibuku dan berkata, “ayah sama anak sama aja. cepetan mandi ama makan!!!”
“ciyeee….mama cemburu nih.” ledekku
“Baru ingin nyari mama baru buat kamu nit, udah dilarang” timpal ayahku.
“Udah cepetan kalian mandi. Jangan becanda terus!!!” ujar ibuku sambil menyeret aku dan ayahku dengan tangan kanannya menarik ke atas kerah belakang bajuku, seperti memegang kucing, dan sebelah tangan kirinnya sambil menjewer kuping ayahku.

***
Kubasuh keringat yang mengucur di wajahku perlahan dengan handuk sambil duduk melepas lelah setelah bermain drum di atas panggung bersama bandku. Tapi pikiran ini malah memikirkan dia dan ingin cepat-cepat pulang untuk online.
“Si Deny lagi online ga yah?” ujar hatiku.
Memang, setelah Deny meng add aku di FB, setiap hari aku dan dia selalu chat berjam-jam membicarakan apa saja. Seperti candu yang menggerogoti pikiranku untuk selalu dekat dengannya, walaupun hanya di dunia maya. Aku merasa benih cinta yang masih kusimpan di hati saat dulu bersamanya, kini malah menjadi tumbuh besar dan bersemi di hatiku.
“Andai dia disini” doaku. 

Tiba-tiba suara yang tidak asing bagiku menyapa diriku. Suara yang tiga tahun tak pernah kudengar, mendadak terdengar tepat di depanku.
“Hai nyit”
“Deny” teriakku.
Aku kaget bukan main karena ia kini hadir di depanku. Aku langsung mengarahkan pandanganku ke atas dan berkata, “Ko cepet banget sih doaku di kabulkan?”
“Ketukan drum kamu tambah bagus” ujarnnya lagi yang membuyarkan pandanganku sambil  menyodorkan air mineral dingin padaku.
“Thanks Den” kuterima tawaran air minumnya sambil mencoba menenangkan hatiku yang kaget bukan main.
“Yang lain dimana?” sambil melihat kearah sekeliling kami.
“Mereka lagi membeli minum” ucapku sambil menunjuk ke arah kantin lalu berkata lagi, “Oh iya, kamu ko ada disini sih? katanya ga bisa dateng? kapan nyampe? kamu dari tadi disini? kamu tadi liat kita main dong? kamu ko tambah…”
“Satu-satu dong neng nanyanya.” ujarnya memotong cecaran pertanyaanku. ”Aku tadi pagi baru nyampe, terus langsung kesini cuma pengen melihat kamu main and pengen bikin surprise aja ke kamu”
“Jauh-jauh kesini cuma mau ngeliat aku main drum and bikin surprise?”wajahku mulai memerah
“Ya seperti itulah” jawabnya simple.
Tapi jawaban itu membuatku tak berdaya, tambah lagi melihat perubahannya yang semakin dewasa dengan rambutnya yang dulu gondrong kini dipotong pendek.
“Ko ngeliatinnya gitu?” ujarnya
“Kamu berubah Den”
“Ya gitu deh” jawabnya sambil mengaruk-garuk belakang kepalanya.
Kami langsung terdiam dan hanya senyum-senyum yang ga jelas.
“Nyit, gw langsung aja yah” akhirnya ia memecah kecanggungan antara kami berdua sambil menatapku dengan lembut seperti memancarkan sesuatu yang ingin di ucapkan padaku dan hati ini berdebar tambah kencang lagi tak karuan.
“Nyit, gw dateng kesini cuma mau ngasih ini ke lo” ia langsung memegang lenganku dan meletakkan benda itu di telapak tanganku.
“Deny, kamu…”
“Sorry nyit, gw ga tau harus gimana ngomongnya.”
“Ini kan…” sambil melihat benda itu di telapak tanganku. “Aku….”
“Jangan dijawab sekarang nyit” ia menyela perkataanku. Beberapa detik kemudian ia berkata lagi, ”Gw baru sadar nyit setelah kita ngechat di FB. Ternyata benar kata orang, kita akan kehilangan sesuatu yang kita cintai saat ia tidak hadir di depan kita. Karena itulah, gw ga mau kehilangan sesuatu yang gw cintai lagi dengan menyatukannya dengan benda yang ada ditangan kamu”
“Den, kamu serius?”
“Iya, aku serius”
“Dennnnny,” terdengar teriakan dari teman-teman satu bandku berlari ke arah Deny dan memeluknya. Keriuhan khas anak-anak cowo memasuki telingaku. Namun, pandanganku masih terpusat ke benda yang berbentuk bulat yang sedang kegenggam erat.
Aku lansung tersenyum sambil melihat deny yang sedang di acak-acak rambutnya oleh teman-temanku dan tanpa sadar berkata di hati,
“Yes, I do”

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>