Pachypodium Girl

By. Andika Sukandi

aku baik-baik saja, menikmati hidup yang aku punya, hidupku sangat sempurna, I’m single and very happy

Terdengar alunan lagu dari Oppie Andaresta dari earphone i-phodku. Aku langsung tersenyum mendengar lirik lagu tersebut.

“Gw banget nih lagu” bisikku dalam hati.

Dengan diiringi lagu Oppie, kulangkahkan kakiku menuju rak-rak tanaman tersusun dengan rapi dipinggir jalan raya ini. Kulihat satu-persatu tanaman hias untuk menambah koleksi tanamanku. Sekalian mencari tanaman itu, tanaman langka yang membuatku penasaran beberapa tahun ini.

Saat lagi asik menikmati perburuan, kudengar ada seorang yang memanggil dari arah samping tempat dimana kuberdiri.

“Linda, kamu Linda kan?” ujar seseorang wanita menunjukku.

Kukerutkan kening ini dengan seketika saat melihat wajahnya, kuraba-raba ingatan mencoba mengingat wajah itu.

“Linda, masa lupa sih ama teman sebangku lo?” ujarnya lagi meyakinkanku.

“Ameeel” teriakku

Akhirnya aku bisa mengingat wajah itu dan langsung berpelukan, kemudian dilanjutkan dengan cipika-cipiki merayakan pertemuan yang tak disengaja ini.

“Sorry Mel, gw ga inget muka lo, soalnya lo berubah banget” kupandangi wajahnya yang kini tersentuh oleh the magic of make-up yang di puja sebagian kaumku.

“Nah lo ga berubah sama sekali Lin, masih tetep aja natural seperti kaya dulu. Makanya gw langsung ngenalin lo” ujarnya sambil memegang tanganku.

“Lo tahu sendiri kan gw, gw pengen apa adanya” belaku.

“Iya, tapi satu hari nanti lo harus memakai make-up Lin” ujarnya. “Oh iya, lo sendirian?”

“Iya, gw sendirian aja”

“Engga ditemenin ama cowo lo?”

“Kaga, gw sendiri aja. Lebih enak belanja sendiri, gw bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa harus menghadapi muka bete yang nemenin gw”

“Alesan aja, bilang aja lo ga punya cowo Lin”

“He…he…gw masih seneng sendiri. Lagi males pacaran”

Lagi males apa kaga laku?”

“Enak aja!!!” kulangsung mencubit pinggangnya.

“Secaaara gitu loh, selama kita di SMA, lo kan ga pernah pacaran” ujarnya sambil menghindari cubitanku.

“Ya ga apa-apa sih, walaupun gw jomblo, tapi gw happy” jelasku. “Udah ah, jangan ngebahas itu lagi. Males gw dengernya”

“Iya deh, tapi di suatu saat lo butuh dimanja, diperhatikan ama orang lain ataupun juga sebaliknya.”

“Kan ada kucing gw yang bisa gw perhatiin dan gw manja-manja”

“Beda kaaleee” ia kini membalas cubitanku.

“Kan ada temen-temen deket gw”

“Tapi di suatu waktu, mereka ga selalu hadir pas lo lagi butuh mereka. Mereka akan mempunyai kehidupan sendiri dengan pasangan masing-masing.”

Entah kenapa, kata-kata yang di ucapkan oleh Amel, kini bergema di gendang telingaku, lalu merembas masuk ke dalam pemikiran, membanjiri dengan logika-logika yang menggoyahkan keputusanku untuk tidak berpacaran.

“Bener juga sih. Tapi gw pengen sendiri dulu. Gw masih happy dengan kehidupan gw sekarang” kukokohkan lagi pendirianku.

“Ya ga apa-apa sih, itu kan keputusan lo. Tapi sampai kapan cin?”

“Gw yakin Mel, akan datang pasangan jiwaku pada waktu dan cara yang indah” kukutip lirik Oppie.

“Kayanya gw pernah denger deh tuh kata-kata”

“He…he…”

“Say, udah dapet tanamannya” sebuah teguran dari arah belakang Amel. Ternyata seorang cowo dengan berparas cukup lumayan dengan postur tubuh yang tinggi tegap seperti bodyguard.

“Udah say” jawab Amel dengan nada manja sambil menunjukan tanaman yang telah dibelinya “Oh iya say, kenalin ini temen gw waktu SMA, namanya Linda, dia temen sebangku pas waktu kelas 1”

“Aldy” ia mengulurkan tangannya.

“Linda” kusambut tangannya dengan lembut. Tapi ia malah menggenggam tanganku cukup erat. Kulangsung melepas genggamanya, karena telapak tangannya cukup kasar menyentuk indra perabaku.

“Udah ketemu?” tanya Amel ke cowonya.

“Udah. Tuh disana” menunjuk ATM di ujung jalan ini.

Kupalingkan wajahku dari mereka berdua. Aku malas melihat mereka bermesraan dengan tangan mereka bergandengan dan wajah yang berdekatan seperti ingin berciuman.

“Get a room, will you?” hatiku mengejek.

“Ok deh Lin, kita duluan yah. Nemenin dia nih nyari aksesoris motor” sambil menunjuk cowonya.

“Ok deh, sampai ketemu lagi”

Mereka pun melangkah pergi setelah aku dan Amel bertukar nomer handphone.

***

Di taman kota, tidak jauh dari tempat menjual tanaman hias, dimana aku bertemu dengan Amel, kusenderkan punggungku di bangku taman. Kulepaskan rasa lelahku setelah beberapa jam mencari tanaman yang sedang kucari, tanaman yang langka itu. Namun, aku tak dapat menemukannya.

Sambil melepaskan letihku, kupandangi suasana taman ini yang biasa menjadi tempat teman-temanku pada berkumpul. Tapi entah kenapa, hari ini aku tak melihat satupun temanku disini.

Namun selang beberapa menit, akhirnya kumelihat juga wajah yang tak asing bagiku berjalan menghampiriku. Ternyata itu Bobby, teman satu kuliahku. Namun kulihat wajahnya terlihat seperti putus asa menghadapi hidup.

Tanpa berkata apapun, ia langsung duduk disampingku tak bersemangat.

“Kenapa lo, muka lo lecek gitu?”

“Gw di tolak lagi” ia mengucek mukanya yang udah ga karuan.

“Kan udah gw bilang, lo jangan terburu-buru ungkapin cinta. Lo PDKT dulu beberapa bulan, kalo udah keliatan lampu ijo, baru lo tembak.”

“Boro-boro pendekatan, gw belum ngomong aja udah langsung ditolak”

“Maksud loh?”

“Tadi gw ga sengaja ketemu cewe inceran gw di café tempat biasa gw nongkrong. Saking senengnya, gw samperin dia pas lagi duduk sendirian. Gw langsung berfikir, ini waktunya yang pas untuk nembak dia. Terus pas gw pengen mengungkapakan perasaan gw, dia langsung ngomong kaya gini, “Sorry Bob, gw udah punya cowo” terus dia langsung pergi gitu aja”

Aku langsuk tertawa tak tertahankan mendengar cerita yang jarang aku denger, ditolak sebelum nembak.

“Jadi lo ditolak sebelum ngomong?” tawaku tambah menjadi-jadi.

“Iya, kayanya nasib gw kaya Hanamichi deh” kini ia mengacak-acak rambutnya.

“Ha…ha…” aku tambah tertawa lagi sambil mengingat Sakuragi Hanamichi, seorang tokoh dari komik yang berjudul “slam dunk”. Kalo ga salah inget, ia ditolak cewe 50 kali.

“Emang lo udah ditolak cewe berapa kali?”

“50 kali”

“Ha…ha…”

Tawaku tambah menggelegar sampai-sampai orang disekitar melihatku.

“Udah deh jangan ketawa lagi” sambil mendorongku pelan dengan tangannya. “Bukannya menghibur gw”

“Iya…iya…” kucoba menahan tawaku.

kapan ku punya pacar…kapan ku punya pacar

Kudengar Bobby malah bernyanyi lagu dari Seurieus band dengan wajah melasnya. Aku langsung iba melihat dia seperti itu.

“Gini deh Bob, mendingan lo tahan dulu deh hasrat lo untuk pacaran” kucoba menghiburnya. “Suatu saat pasti ada cewe yang akan menerima lo apa adanya”

“Tapi kapan?”

“Bob, Tuhan menciptakan mahluknya berpasang-pasangan. Nah, pasangan lo masih ada diluar sana, tapi Tuhan belum menunjukannya pada elo. Jadi sabar aja, dia pasti dateng ko” nasehatku lagi.

“Iya juga sih, tapi kapan? sekarang gw lagi butuh kasih sayang dari wanita”

Aku menghela nafas saat dia berkata seperti itu. Aku heran, wajahnya sih ga jelek-jelek amat. Tapi ko nasibnya jelek banget soal masalah percintaaan.

“Bob, yang gw liat yah dari elo, lo tuh orangnya baik, penolong, dan gw yakin, lo tuh orangnya setia. Tapi, banyak cewe yang belum ngeliat kelebihan lo”

“Lo pengertian banget sih ama gw” ujarnya dengan wajah yang mulai tegar.

“Itulah gunanya temen Bob. Gw akan bantuin lo kalo lo ada masalah.” sambil menepuk pundaknya, “Mendingan lo berfikir yang lain aja dulu, misalnya konsentrasi ke kuliah”

“Iya sih,” ujarnya kini dengan wajah yang mulai tegar. “Kalo gitu, mau bantuin gw ga?”

“Yup, mau minta tolong apa? pasti gw bantuin. Asal jangan pinjem duit, gw lagi bokek”

“Lo kayanya mengerti gw banget. Mau ga jadi cewe gw?”

“Aaaaah….ogah banget!!” teriakku karena kaget mendengar permintaanya.

“Katanya mau bantuin gw?”

“Kalo yang itu gw ga bisa. Di kasih hati minta daging” aku langsung meninju lengannya sambil melangkah pergi meninggalkannya. Tak jauh berselang ku berjalan, kudengar Bobby berteriak, “Aaaah, masa gw ngalahin rekor Hanamichi”

***

“Gimana sih, jadi pager ayu ga mau pake make up!!”

“Linda males pake make-up. Kaya gini aja deh!!”

Perdebatan dengan ibuku mulai memanas di ruang rias. Inlah hari dimana aku paling benci, hari dimana aku selalu dipaksa untuk memakai make-up.

“Udah cepetan dandannya, sebentar lagi pelamin prianya datang? masa pager ayunya belum siap” rayu tanteku.

“Tapi tante, Linda ga betah pake kaya gituan”

Kemudian, sepupuku yang menikah hari ini menghampiriku dari belakang dan berkata, “Ya udah, make-upnya natural aja”

“Tapi …”

“Lin, please. Buat hari ini aja, do it for me” rayu sepupuku dengan wajah yang tak bisa kutolak.

“Dasar perawan tua!! pantesan aja ga pernah ada cowo dateng kerumah” terdengar ledekan dari adik cowoku.

“Diem lo!!!” kesalku.

“Udah-udah jangen berantem. Malu sama saudara yang lain” ujar ayahku menenangkan emosiku. “Tapi kamu kapan nyusul, papa mau nimang cucu nih”

“Apaan sih yah, jangan ngeledek kaya gitu dong”

Inilah hal yang paling malas kudengar. Kapan nyusul?, kapan nikah?, sebuah paradigma yang kutolak dengan keras. Aku tak ingin melakukan sesuatu karena alasan status ataupun desakan dari pihak keluarga. Karena aku ingin menikmati masa remajaku, kuliah setinggi-tingginya, berkerja dan mengejar karir.

***

Kupasang wajah tak mengenakan di depan meja penerima tamu, karena aku seperti memakai topeng di wajah. Aku minta hanya di make-up natural aja, tapi tuh juru rias malah ngedadanin kaya para wanita pekerja kantoran.

“Kamu mau menerima tamu, apa mau menerima ajakan berantem orang? Yang ramah dong mukanya” tegur ayahku.

“Tapi yah…”

“Lin, kamu pernah bilang ke ayah, kamu ingin berkerja di front liner di kantoran kan? kamu harus terbiasa dengan make-up, karena posisi itu diwajibkan dalam dunia pekerjaan”

Kudiam sejenak, mencoba menelaah perkataan ayahku yang mulai mematahkan pendirian ini.

“Iya deh. Linda coba” akhirnya aku mengalah juga.

“Gitu dong, itu baru anak ayah” sambil mencium keningku. “Tuh, ada tamu yang dateng, disambut yang ramah yah”

Kulihat beberapa orang datang dengan berpakain dengan ciri khas orang pergi kondangan. Aku langsung mengikuti nasehat ayahku dan menerima mereka dengan ramah. Namun, pandanganku langsung tertuju pada seseorang pria yang menggunakan kemeja batik dengan disain anak muda. Tidak terlihat sama sekali kuno, malah terlihat keren. Saat kulihat wajah yang menggunakan batik tersebut, aku langsung memasang wajah seramah mungkin.

“Selamat datang”

“Terima kasih” ujarnya dengan membalas senyumku.

Cowo misterius ini langsung memasukan sebuah amplop di tempat yang telah di sediakan. Kemudian ia menulis sebuah nama di buku tamu di depanku. Walaupun dengan melihat terbalik, aku bisa membaca namanya.

“Aira”

“Nama yang lucu” ujar hatiku.

“Terima kasih mba” ujarnya sambil menerima souvenir pernikahan berbentuk kipas.

“Sama-sama” ujarku.

Dia langsung melangkah meninggalkan meja penerima tamu menuju tempat pelaminan. Kuperhatikan setiap gerakan dari cowo misterius yang bernama Aira ini.

“Ganteng banget tuh cowo” ujar Fany, sepupuku yang lain. Ia berumur sepantaran dan duduk tepat disampingku

“Bukan ganteng lagi, tapi babyface abis” Aku tak sadar berkata seperti itu. Baru kali ini aku mengagumi paras kaum adam tanpa berkedip sedikit pun.

Tidak berapa lama, kulihat ia duduk tak jauh dari kami. Ia duduk sambil membawa makanan di tangannya. Walaupun aku melayani tamu yang datang, tapi mataku masih sempat mencuri-curi pandang melihatnya dan cukup lama aku melakukan hal seperti itu tanpa ketahuan olehnya. Tapi saat kucuri pandang lagi, mata kami bertemu, dan ia hanya tersenyum.

“Sial, ketahuan lagi” sambil memalingkan wajahku.

Setelah berkata seperti itu, kulirik lagi, ia bangun dari tempat duduknya dan melangkah menuju kepelaminan lagi. Namun pandanganku terganggu oleh sikutan si Fany, “Udah ngeliatinnya, bantuin gw dong, banyak yang dateng tuh”

Kulihat serombongan orang mulai datang menghampiri aku dan Fany. Akupun melayani mereka dengan senyum mengembang, namun pikiranku masih tertuju padanya. Seiring aku memberikan souvenir pernikahan kepada mereka yang datang, sebuah teguran menyapaku.

“Hei”

“Hai juga” ujarku dengan sedikit terbata

“Gw Aira, temen sepupu lo yang lagi nikah”

“Gw Linda”

“Tadi sepupu lo ngomong ke gw, katanya lo suka tanaman yah?”

“Iya”

Lalu, ia mengeluarkan dompet dari kantong belakangnya dan mengeluarkan kartu nama.

“Ini kartu nama gw. Kalo sempet, mampir ke toko tanaman gw yah. Disitu ada koleksi tanaman yang lagi lo cari, sang pachypodium”

“Haaah…lo punya tanaman langka itu. Tanaman yang asalnya dari Madagaskar?” aku langsung tersentak kaget.

Aku memang sedang mencari tanaman hias langka yang bernama pachypodium. Tumbuhan itu mempunyai bentuk daun dan bunganya yang cantik. Ditambah lagi bentuk bongolnya yang berduri, menambah keindahan tanaman itu. Pachypodium membuatku penasaran beberapa tahun belakangan ini, karena tumbuhan itu belum kulihat secara langsung dengan mata kepalaku sendiri.

“Yup. tapi pachypodium yang gw punya, udah berevolusi dengan situasi habitat negara kita” jelasnya lagi.

“Oh my God, dia udah berevolusi?”

“Iya. Kalo sempet, mampir yah ke toko gw”

“Pastinya. Gw akan mampir”

“Tapi tahu ga, kalau pachypodium diyakini telah hidup selama jutaaan tahun sebelum jaman stone age.”

“Iya, dari artikel yang gw baca, dia terkenal karena bisa terus berevolusi karena pachypodium dapat menyesuaikan diri terhadap habitat dimana pachypodium tumbuh”

“Yup, mudah-mudahan lo bisa seperti tanaman itu yang bisa survive karena dapat menyesuaikan diri dengan habitat dimana lo hidup.”

Aku langsung tersentak dengan pemikiran Aira. Sebuah pembelajaran yang diambil dari alam yang telah hidup berjuta-juta tahun.

“Thanks atas sarannya. Gw ngerti maksud lo”

“Iya, tadi sepupu lo cerita ke gw tentang sifat lo yang anti make-up”

“Dia ngomong kaya gitu? ember banget tuh anak!!”

“Tapi setidaknya, sekarang lo berevolusi dengan menggunakan make-up yang membuat lo terlihat cantik. dan membuat seekor kumbang tertarik untuk mendekatinya” ujarnya dengan sedikit malu-malu.

“Makasih”

“Tapi berevolusinya yang positif yah” ujarnya lagi.

“Pastinya”

“Oke deh. gw balik yah, kayanya lo lagi sibuk menerima tamu”

“Oke”

“Sampai ketemu lagi, pachypodium girl”

“Bye”

Aira langsung berjalan meninggalkanku dengan pemikirannya yang merubah paradigma dalam hidupku.

Lalu, dalam hatiku mulai bertanya ke diriku sendiri sambil melihat Aira berjalan menjauh, “Apakah Tuhan sedang menunjukan pasangan hidup untukku?”

Biodata Penulis

Nama : Andika Sukandi

Alamat : Jl. Dempo III No. 138 Depok Timur.

Pekerjaan : Mengajar di Akademi Bina Sarana Informatika.

Rekening : 6610376787 (BCA)

Telp : (021) 77831225

HP : 0856 766 2687

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>