Manusia Tercipta Setengah Jiwa

Siang ini rasanya matahari berada tepat di atas kepala. Di dalam angkot T19 jurusan Depok-TMII keringat gw mengucur membasahi baju seragam. Angkot merangkak pelan menuju Universitas Pancasila. Ditambah jalan raya gak mau kompromi untuk lebih ‘menyejukkan’, tetap memamerkan kemacetan. Fiuhh, gw cuma bisa duduk termangu sambil mengipasi diri dengan buku LKS Geografi.

“Sorry..sorry..” ucap seorang pemuda sambil memegangi pelipisnya. Kulihat darah membasahi tangannya. Tanpa permisi dia duduk di depan gw, disampingnya satu orang pemuda bertopi terlihat panik dan meminta si supir untuk melaju lebih cepat.

Penasaran, gw tanya “Kenapa mas temennya?”

“Tadi di belokan depan Lenteng Agung ada tawuran anak SMA, terus temen gw kena lemparan batu, padahal kita cuma gak sengaja lewat. Dasar anak SMA! Kerjanya tawuran aja” jelas si pemuda bertopi. Dalam hati gw agak tersinggung dengan anggapannya menyamaratakan bahwa anak SMA suka tawuran, apa dia gak liat kalo gw anak SMA juga?!.

Menyadari mimik mukaku yang berubah, pemuda bertopi tadi jadi salah tingkah dan buru- buru meralat omongannya.
“Eh lo juga SMA ya? Sorry lho gak maksud nyindir, kalo lo sih..hm, kayaknya baik hati” sahut si pemuda bertopi ini yang belakangan kuketahui bernama Angga. Aku melihatnya dari border di sisi kanan topinya.

“Angga..temen lagi sakit, lo malah godain anak SMA, cepetan dong..darah gw banyak banget yang keluar neh!!” ujar pemuda yang terluka setengah berteriak.

“Sabar dong Iyang, lho sakit masih bawel aja!” kata Angga lagi.

“Nih, balut aja dulu pake handuk gw.”  Sahutku sambil mengulurkan handuk kecil.
Tanpa sempat mengucapkan terima kasih, Angga membalutkan ke kepala Iyang. Kutatap wajah Iyang yang menahan sakit, sepertinya wajah ini gak asing buat gw, hm…tapi siapa ya?…

*   *   *   *   *

Pendarahan Iyang kian menghebat, dan terpaksa dibawa ke UGD RS Fatmawati. Gw diminta Angga untuk menemaninya ke RS. Wuih, hari ini emang hari paling sial buat gw. Setelah bermacet- macet ria, ketemu orang korban tawuran, dan sekarang di RS, ngurusin admistrasi yang bukan siapa-siapa gw, baru kenal!!!

“Sory lo jadi ikut repot! Btw, dari tadi gw belum tau nama lo” suara Angga mengagetkan gw di ruang tunggu RS Fatmawati. 

“Inggit” ujar gw singkat sambil menganggukan kepala.

“Angga” jawabnya lagi sambil membuka topinya. ”Thank u ya Nggit” sambungnya lagi.
Gw bisa jelas lihat Angga, kayaknya tampang nih cowok juga gak asing buat gw.

“Hm..gw udah boleh pulang?” tanya gw dengan suara tertahan.

“Oh boleh Nggit, duh jadi gak enak gw sama lo. Besok, pulang sekolah lo ke sini lagi ya..temenin gw. Garing gw nungguin Iyang sendirian. Yah, lukanya udah dijahit, tinggal pemulihan aja kata dokter” Angga bercerita tanpa gw minta.

*   *   *   *   *

Hari yang melelahkan, ujar gw dalam hati sambil menyeka keringat yang membasahi dahi gw. Metromini 76 semakin sesak, tapi sepertinya pak supir masih enggan jalan. Huh, padahal aku ingin cepat sampai rumah. Ada acara musik yang bintang tamunya The Funciest, band favorit gw, Vian, Tongga, Boby, dan Edoy. Cowok yang berpengaruh dalam hidup gw. Band yang menemani gw saat suka dan duka. Yang bikin semangat setiap pagi, yang gak pernah lelah menghibur gw saat gw down. Walau cuma lewat televisi atau radio, tapi gw merasa ‘dekat’ dengan mereka melalui lirik- liriknya. Gw pejamkan mata, membayangkan gw berada di antara personil The Funciest. Hm, kapan ya gw bisa ketemu mereka?.

Gelisah gw dalam perjalanan, sesekali gw melirik jam tangan gw dan berharap detiknya akan berhenti. Dalam hati gw berdoa show performance The Funciest bakal terlambat. Sekali lagi gw makin yakin kalo hari ini hari sial buat gw. Akibat terburu- buru ingin menonton show performance dari The Funciest, aku hampir saja terjatuh dari mertomini. Berlari gw menuju rumah, tanpa membuka sepatu terlebih dahulu, gw langsung menuju ruang tamu dan menyalakan televisi. Klik! Lho kok gak nyala?

“Mati lampu Inggit dari tadi, katanya ada gangguan PLN!”  teriak mama dari dapur. Huff, gw terkulai lemas di sofa tamu. Makin yakin gw kalo hari ini adalah hari sial buat gw!!

*   *   *   *   *

Sendiri gw menelusuri lorong RS. Sepulang sekolah, masih berseragam lengkap, gw memenuhi permintaan Angga untuk menemani menjaga Iyang di RS. Sepanjang koridor, aku mengingat- ingat wajah Angga dan Iyang. Rasanya ada sesuatu yang mendekatkan gw dan dua cowok itu.

“Nah ini dia..617, yap bener!” sorak gw dalam hati.
Gw buka pintu perlahan dan gw lihat Iyang dan Angga sedang tertawa. Mereka menghentikan tawanya waktu gw masuk.

“Eh Nggit! Masuk, gw kira lo gak jadi datang!” ucap Angga.

“Ini Inggit ‘Yang, yang kemaren ketemu kita di angkot dan dia nolongin lo!” sambungnya lagi.
Gw cuma tersenyum sambil mengangguk. Iyang membalas senyum gw. Ya Tuhan, senyum itu dan raut muka Iyang makin gw kenal. Tapi siapa ya?…

“Kita berdua ngucapin thank you banget buat bantuan lo kenaren ya ‘Nggit! Gak tau deh kalo gak ada lo! “ Angga lebih komunikatif dibanding Iyang yang dari tadi hanya tersenyum dan memandangi gw seakan- akan gw makhluk aneh.

“Ya, sama- sama, it’s oke. Kita memang harus saling tolong menolong, saat yang satunya kelelahan ya udah seharusnya yang satu menopangnya. Kan manusia tercipta setengah jiwa.”  Jawab gw mencuplik judul lagu The Funciest, Manusia tercipta setengah jiwa. Hi..hi..maksudnya sih biar kelihatan lebih intelek, gak dipandang aneh sama Iyang.

“Manusia tercipta setengah jiwa, itu sebabnya dia akan mencari setengahnya lagi. Maka saat saling melengkapi, itu hakikat sesungguhnya” tiba- tiba Iyang melantunkan lirik lagu The Funciest.

Sontak gw bertanya..”Penggemar The Funciest juga ya lo?”

“Thanks yang kedua, kita gak nyangka kalo ternyata ada penggemar the funciest semanis lo!” goda Angga. Aduh, makin gak ngerti gw.

“Gw tau dari ini” Iyang menyodorkan sebuah organizer. “Ini punya lo’kan? Sorry kita buka kemaren karena buat liat ini punya siapa dan gw kaget karena di situ ada postcard The Funciest plus mimpi- mimpi lo buat bisa berada di tengah- tengah kita. Hm, emang takdir gak bisa diduga ya..Sekarang lo bukan hanya berada di tengah The Funciest, tapi jadi satu tokoh dalam perjalanan The Funciest. Bahkan tadi kita lagi ngobrol- ngobrol mau jadiin nama lo buat jadi salah satu judul lagu The Funciest plus model video klip-nya. Boleh ‘Nggit?” ujar Angga sambil merangkul pundak gw.

Seperti tak percaya, gw buka organizer gw dan betapa kagetnya bahwa dua orang di depan gw adalah Iyang alias Vian sang vokalis dan Angga alias Tongga sang gitaris, Huff..tiba- tiba mataku berkunang, masih kudengar Angga memanggil namaku, setelah itu..huff…biarkan aku berfikir sejenak bahwa ini bukan mimpi…(dok. Ifah PM)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>