Kisah Cinta, di Gedung Tua

By. Andika Sukandi

Di rumah peninggalan jaman Belanda yang kini menjadi sebuah café, Budi berjalan menghampiri seorang gadis yang hampir 15 menit telah menunggu kedatangannya.
“Ko baru dateng sih?”
“Sorry, gw ada keperluan tadi.”
“Ok ga apa-apa say. Terus, ada apa sih kamu minta ketemuan disini?”
“Langsung aja, lebih baik kita sampai sini aja” ujar Budi to the point.
“Kamu minta putus?”

“Iya”
“Gampang banget lo yah minta putus, gw udah berkorban mengkhianati cowo gw. Terus lo mau putus gitu aja.”
“Terserah lo mau ngomong apa. Gw seharusnya sadar dari dulu, kalo hubungan kita itu ga bakalan jalan”
“Tega lo yah”
“Vin, kita sama-sama mengkhianati pasangan kita masing-masing. Gw cuma pengen menjalani hubungan dengan normal. Gw pengen mencintai satu wanita saja.”
“Oh gitu, lo mau sama si Wina aja”
Wajah Vina yang tadi terlihat cantik, kini terbakar oleh api kemarahan yang tercampur oleh api kecemburuan.
“Si Wina udah gw putusuin juga”
“Si wina juga?”
“Dasar play boy, baru kali ini gw ngeliat cowo yang memainkan perasaan cewe seenaknya. Lo ga sadar, gw sakit ngedenger lo ngomong kaya gitu. tau ga?”
Vina melotot ke arah Budi yang terlihat tenang.
“Sorry Vin. gw memang salah. Tapi yang pasti, gw sekarang pengen memperbaiki kesalahan gw.”
“Dengan mutusin gw, gitu? Budi, gw masih sayang elo. Gw ga mau kehilangan lo”
“Gw ga bisa lagi Vin, gw baru tahu rasanya di khianatin dan itu sakit banget. Gw ga mau bikin cowo lo merasa apa yang sedang gw rasakan sekarang. Sebelum dia tahu yang sebenarnya.”
“Tapi Bud..”
“Udah Vin, ga usah dipertanyakan lagi. Kita emang salah.”
“Lo bilang, lo pengen mencintai hanya satu orang dan udah mutusin Wina, pasti lo udah ketemu sama cewe lain kan?”
“Iya, dari dia gw baru sadar kesalahan gw”
“Dasar cowo. Udah ga perlu langsung dibuang gitu aja”
“Terserah lo. Cuma itu yang gw pengen omongin, lo mau terima apa kaga, itu keputusan lo, yang pasti kita cukup sampai disini. Dan lebih baik, lo lebih memperhatikan cowo lo, dia orang yang baik.”
Budi bangun dari duduknya sambil melihat Vina yang menghapus air mata dari pipinya.
“Selamat tinggal Vin” ujar Budi sambil melangkah pergi meninggalkannya yang masih duduk terdiam.
Dalam hati Vina, rasa sayang kepada Budi, kini bertransformasi menjadi rasa amarah dan benci yang amat sangat. “Dasar cowo brengsek!! gw akan bales perlakuan lo ke gw!!”
***
Esok harinya, Budi berjalan di antara gedung-gedung tua bersama seorang gadis di sisinya. Gadis itu berbicara dengan Budi dengan antusias.
“Oh iya, ada sesuatu buat lo” ucap Tera ke Budi.
Dia merogoh tasnya seperti ingin mengambil sesuatu. Ternyata Tera mengeluarkan benda seperti kumbang lalu memberikannya ke Budi.
“Apaan nih?” tanya Budi heran sambil menggenggam kumbang tersebut.
“Itu jam” Tera mengarahkan tangannya ke kumbang itu dan menekan tanduk kumbang tersebut. Terlihatlah angka-angka dan jarum penunjuk dari sayap yang sedang terbuka.
“Buat gw?” tanya Budi
“Yup, anggap aja ucapan terima kasih”
“Ucapan terima kasih apaan?”
“Kan kemaren lo udah nyelametin gw dari jendela yang jatoh dan hampir kena gw dari gedung tua itu tuh” ia menunjuk gedung tua di belakangnya.
“Oh gitu, makasih yah”
“Gw juga pernah denger dari Bondan. Lo sering telat kalo janjian. Jadi gw harap dengan jam ini lo ga telat lagi” ujar Tera dengan senyum manisnya.
“Thanks. Lo perhatian banget”
Budi langsung tersenyum. Wajahnya yang tadi murung, kini terlihat sedikit diceriakan oleh kehadiran Tera.
Budi tak henti-hentinya tertawa melihat cara Tera bercerita, memainkan rambutnya, membawakan seluruh tubuhnya dengan percaya diri.
“Ko ngeliatinnya gitu” ucap Tera yang melihat Budi dengan pandangan yang berbeda dan detak jantungnya berdetak kencang saat cowo idamannya kini meraih tangannya dan mengucapkan tiga kata yang selalu dinantinya.

***
Di teras kampus yang dibangun pada jaman Belanda, Tera dan Novi sedang duduk di bangku yang terbuat dari beton.  Di depan mereka ada sebuah meja dengan bahan yang sama dengan bangku yang mereka duduki dan ada juga terdapat pohon-pohon rindang meneduhi mereka dari panasnya sinar matahari yang menyengat kulit. Mereka tidak sendiri, di sekitar mereka juga banyak yang sedang duduk-duduk santai menikmati keteduhan taman yang khusus dibuat untuk melepas lelah para mahasiswa.
Tidak hanya pohon-pohon rindang yang tumbuh di sana, tapi juga beberapa macam jenis bunga berwarna-warni menghiasi taman, untuk mempercantik suasana keteduhan yang sedang Novi rasakan sambil memperhatikan teman satu kostannya yang semangat mengerjakan tugas kuliahnya.
“Ciyeeee yang udah Jadian”
“Udah deh, dari kemaren ngomongnya kaya gitu terus” ucap Tera tersipu.
“Itu tandanya gw juga seneng ngeliat temen gw bahagia dong”
“Thank you”
Mereka pun berpelukan membagi kebahagian bersama. Namun, kebahagian mereka mulai terganggu oleh seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai. Lebih cantik daripada Tera. Menghampiri mereka dengan nada yang sinis.
“Lo yang namanya Tera?”Tanya wanita itu tanpa basa-basi.
“Iya itu gw!!”
“Bisa bicara sebentar, hanya kita berdua” ujarnya sambil melirik Novi.
“Ra, gw tinggal lo berdua ga apa-apa?” ucap Novi.
“Ya udah ga apa-apa.”
Novi melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Novi sempat menoleh lagi ke mereka, ia seperti merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Tera.
“Mau ngomong apa? terus lo tuh siapa?” tanya Tera dengan heran.
“Gw Vina”
***
“Minggir, pamali tau berdiri di depan pintu” ujar Budi sambil merocos gitu aja dengan perasaan kesal, walaupun ia baru saja datang ke tempat kosan Mido yang dibangun saat penjajahan Belanda.
“Pamali?” kata Sanji bingung.
“Masih percaya lo ama mitos kaya gitu” Egi menyambar pembicaraan mereka berdua.
“Bukan mitos, tapi omongan orang tua yang ga mau ngomong langsung ke pusat masalah, tapi dengan cerita-cerita tahayul untuk menakuti anaknya agar menuruti perintah orang tua”
Budi langsung merebahkan pantatnya di kursi singgasana kebesarannya. Si Budi mempunyai gaya penampilan yang jadul abis, mulai dari kemejanya yang ketat dan kancing terbuka yang terlihat dadanya. Celananya yang cutbray dan gaya rambutnya yang jadul abis.
“Maksud lo?” tanya Mido
“Kaya gini, seperti lo berdiri di depan pintu tadi, itu bukan berhubungan dengan metafisika ataupun tahayul. Mereka cuma pengen ngomong kalo berdiri depan pintu itu ngalangin orang yang pengen lewat. itu aja” Budi berkata seperti raja yang berbicara kepada rakyatnya yang duduk di lantai, yaitu teman-temannya.
“Kenapa harus pake tahayul?” tanya Bondan mengetes logika Budi.
“Karena jaman dulu, semasa orang tua kita, mereka masih percaya akan hal mistis dan ditularkan ke anak-anaknya. Tapi coba lo ngomong kaya gitu ke anak-anak sekarang yang cakupan gizinya lebih terjamin, mereka pasti tidak percaya hal tetek bengek kaya gitu. Makanya anak-anak sekarang banyak yang bandel minta ampun dan kini tidak mempan dengan bentakan dan marahan”
“Terus gimana caranya ngehadapain anak-anak kaya gitu?” tanya Mido yang telah merasakan kenakalan anak-anak didiknya.
“Simple, lo sentuh hati mereka”
“Gimana caranya?” tanya Mido.
“Mmmmm gini deh, gw kasih contoh. Ibaratkan mereka itu kucing liar”
“Terus” tanya Sanji.
“Coba lo tangkep tuh kucing, Mereka pasti susah ditangkepnya kan?”
“Iya”
“Nah, oleh karena itu. Kita harus mengetahui, apa sih yang di inginkan kucing”
“Ikan atau daging” ujar Mido.
“Yup, tepat. Kasih mereka iming-iming ikan ataupun daging. Pasti mereka akan mendekati tanpa harus kita mengejar-ngejar mereka” jelas Budi. “Setelah beberapa kali dikasih apa yang di inginkan oleh mereka, pasti mereka akan menuruti perintah lo”
“Bener juga sih Bud, tapi teori lo tuh ada kekurangannya. mereka melakukan sesuatu karena ada maunya. Mereka bertindak bukan dorongan dari keikhlasan ataupun kesadaran dari hatinya. Seperti gini, mereka disuruh untuk membersihkan kamar mereka, nanti uang jajan mereka akan ditambah oleh orang tuanya karena menuruti perintah orang tua mereka. Itu sama aja, tidak mengajarkan ke ikhlasan hati”
“Sama kaya lo dong?”   
“Maksud lo Bon?”
“Lo gawe sekarang kan untuk mendapatkan duit. Lo pasti diperintah-perintah ama bos lo apa yang disuruh kan. Kalo lo nolak, lo pasti akan dipotong gaji lo, atau juga dikurangin jam ngajar. Sama aja lo ga ikhlas ngejalaninnnya”
Mido tidak langsung menjawabnya. Ia berfikir sejenak dan berkata kembali, “Gw lakuin itu karena itu tugas gw membagi ilmu.”
“Sama aja Do, lo ngelakuin itu karena uang” sambar Sanji mendukung Bondan.
“Engga dong, gw lakuin itu karena niat pertama gw ngajar, karena gw ikhlas untuk memberikan ilmu gw ke orang lain”
“Nah itu tuh, kita kehilangan rasa ikhlas. Itu yang membuat bangsa ini terkikis rasa gotong royongnya. Semua karena berdasarkan apa untungnya bagi diri sendiri.” ujar Egi mendukung Mido.
“Nah, kalo misalkan ada nenek yang tenggelam di kali. Pasti lo langsung nyebur nyelametin tuh nenek, Tapi lo ga berfikir, apa untungnya bagi lo. Ga ada yang ngasih uang untuk jerih payah hasil penyelamatan lo.” ujar Bondan.
“Wah, itu mah beda” ujar Mido.
“Ko beda, sama aja kan?” tanya Sanji
“Jelas beda dong, situasi itu bukan dibutuhkan logika, tapi rasa kemanusiaan” ucap Egi membantu Mido 
“Jadi lo ikhlas ngelakuin itu tanpa dibayar?” tanya Sanji
“Iyalah gw ikhlas” Jawab Mido
“Terus, perasaan ikhlas itu untuk apa? Untuk mendapatkan pahala agar lo bisa masuk ke surga kan? Kalo kaya gitu, lo ga ikhlas dong. Lo ngelakuin itu karena lo inginkan sesuatu. sama aja” jelas Bondan
“Ya engga lah” bela Mido
“Sama aja kali. Terus kita beribadah setiap hari untuk apa?”
“Untuk lebih dekat ke Tuhan.” jawab Mido
“Terus untuk apa kita lebih dekat ke Tuhan. Untuk bisa masuk surga kan? pasti ada terselip perasaan apa yang kita inginkan di hati kecil kita. Ga ada ikhlas yang murni” jelas Bondan.
“Sebenernya sih simple” Budi yang dari tadi hanya diam mendengar perdebatan antara teman-temannya, kini angkat bicara.
“Simple gimana?” tanya Mido
“Ya kita balikin aja ke masing-masing individu. Ada individu yang melakukan sesuatu karena imbalan, ada juga melakukan sesuatu karena rasa ikhlas dari dalam lubuk hatinya. Nah sekarang tergantung dari kita aja, ingin menjadi seperti individu seperti apa”
“Terus, lo milih mau jadi individu seperti apa? apa lo termasuk individu yang menjalankankan perintah Tuhan karena ingin masuk Surga?” tanya Bondan ke Budi dengan tatapan yang ingin tahu.
“Hahay, gw bukan orang kaya gitu cuy” Budi berhenti sejenak dan kini ia berkata kembali “Gw melaksanakan perintah-Nya bukan karena ingin surga, tapi karena aku mencintai-Nya, itu saja.”
“Wooow!!” Bondan tersentak kaget setelah mendengar perkataan sang biang rusuh ini
“Ha…ha…gw paling seneng kalo ngumpul kaya gini, pasti ada aja yang di obrolin dan di debatin” ujar Budi sambil tertawa.
“Kayanya lo tambah seneng Bud dari hari-hari kemaren” tanya Mido yang baru menyadari perubahan si Budi.
“Tambah seneng apaan, dia tuh lagi berantem ama cewenya gara-gara dituduh selingkuh. Lo tau sendiri kan, kalo dia sedih tapi belaga keliatan seneng” ucap Sanji berkata apa adanya.
Ekspresi Budi yang tadinya senang kini kelihatan sedih mengingat kejadian sore itu, saat ia ditampar oleh Tera, Kekasih Budi.
“Sorry cuy, gw ga bermaksud untuk…”
“Udah santai aja” ucap Budi menyela pembicaraan temannya sambil meraba benda yang ada di kantong depan celana jeansnya. Sebuah benda yang pernah dikasih oleh kekasihnya.
“Terus kapan lo mau selesain masalah lo”
“Besok, gw janjian ketemuan ama dia di taman kota tua” ucap Budi.
Tak lama kemudian, Bondan memancing Budi untuk berbicara mengenai masalahnya.
“Bud, ceritanya gimana sih sampe kaya gitu?”
“Jadi gini, semenjak kenal Tera gw jadi sadar, gw…”
Budi pun bicara panjang lebar menjelaskan semuanya kepada teman-temannya. Namun hanya Bondan yang tidak mendengarkan, karena ia sembunyi-sembunyi mengambil telfon genggamnya dan menekan nomer dan terdengar suara wanita yang bicara halo, namun saat ia ingin bicara lagi, wanita itu terdiam karena ia mendengar suara pria yang sedang berbicara panjang lebar.
***
Suasana malam di taman kota tua terasa hening karena tersiram oleh air hujan beberapa menit yang lalu. Rintikan air masih terlihat jatuh dari daun-daunnya yang rindang. Lampu-lampu taman yang temaram, sedang bersinar dengan samar-samar menerangi Budi yang duduk di ujung bangku. Di ujung bangku lainnya, Tera sedang duduk dengan wajahnya yang tidak terlihat, karena pancaran lampu taman tidak cukup kuat menerangi tempat dimana Tera duduk.
“Tera”
Budi membuka pembicaraan. Tapi sayangnya, dia tidak membalas panggilan itu. budi menghela nafas sejenak dan berkata kembali “Gw minta ketemuan sekali lagi, cuma ingin memperjelas semuanya ke elo”
Untuk kedua kalinya, tidak ada balasan kata dari Tera. Budi hanya bisa membayangkan kesedihan di wajah Tera, walaupun ia tertutup oleh selimut hitam malam.
“Terserah lo mau dengerin apa engga, gw cuma mau bilang, gw sayang banget sama lo. Karena setelah gw kenal lo, gw putusin semua cewe gw, karena gw ga mau cinta ini terbagi ama yang lain, gw pengen nyerahin semua kasih sayang gw ke lo. Hanya sama lo Ra” lirih Budi.
Masih tak ada jawaban dari Tera.
“Tapi, kalo ini harus berakhir. Gw rela, gw terima semua keputusan lo” ucap Budi.
Setelah ia berkata seperti itu, Budi mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk kumbang dari kantong celananya. Ia kemudian meletakan kumbang itu dan meletakannya ke tengah bangku diantara mereka. 
“Cuma itu yang gw pengen jelasin ke elo, sekalian balikin si kumbang. Makasih atas segalannya”
Budi langsung bangun dan melangkah perlahan meninggalkan Tera. Tapi pada langkah kelima, suara lirih dan terisak memanggilnya.
“Budiiiii”
Tanpa diperintah, Budi berhenti dari langkahnya. Budi memutar tubuhnya seiring sinar bulan membuka tabir awan hitam dengan perlahan yang mulai menyinari wajah Tera yang terlihat sedang berlinang air mata menatap Budi.
“Budi, tungguuu”
Tera beranjak dari duduknya sambil mengambil kumbang yang tadi di letakan Budi. Dia kini menghampiri Budi dan berdiri saling berhadapan. Tera pun mulai berkata, “Mana ada wanita yang ingin dikhianatin Bud. Mungkin hanya ada satu wanita dari seribu wanita yang memaafkan hal ini. Tau ga!!”
“Iya gw ngerti. gw salah” ujar Budi tertunduk, tak berani menatap Tera yang sedang berdiri tepat di depannya.
“Tapi entah kenapa, gw merasa seperti satu wanita dari seribu wanita yang memaafkan hal ini” ujar Tera lagi sambil meraih tangan Budi.
Budi langsung menaikan pandangannya untuk melihat Tera, untuk memastikan apa yang tadi didengarnya. Lalu Tera membuka telapak tangan Budi dan meletakan si kumbang di tangannya.
“Ga baik mengembalikan barang yang telah diberikan oleh orang lain.” ujar Tera sedikit tersenyum, sambil mengepalkan telapak tangan Budi dan langsung memeluk Budi dengan erat. Budi membalas pelukan Tera seperti tidak ingin melepaskan pelukan itu.
“Gw udah dengar semua penjelasan lo saat lo curhat ama anak-anak dikosan” ucap Tera dengan terisak di bahu Budi.
“Dengar?”
“Iya. waktu lo cerita, Bondan diam-diam nelfon gw dan gw ternyata mendengar suara lo yang sedang bicara. Awalnya gw engga percaya pejelasan lo. Tapi kata hati gw bilang, lo udah berubah. Lo bukan Budi yang dulu lagi”
“Makasih” ucap Budi pelan.
Kini, pelukan mereka di temani oleh cahaya bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang secara perlahan menghapus sisa-sisa awan hitam dengan kerlip cahayanya.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>