Jeans Belel Lita

By. Andhika Sukandi

“Gila lo yah!!!”
“Gila kenapa?” ujar Lita sambil mengerutkan dahinya yang jenong.
“Lo ga malu apa, itu kan jeans udah jelek banget” tunjuk Desi ke jeans yang sedang dipakai Lita.
“Kan udah gw bilang, ini jeans kesayangan gw. Ga ngerti banget sih!!” ucap Lita dengan sedikit bernada tinggi.
Desi menghela nafas mendengar teman sekelasnya yang keras kepala ini sambil melihat lagi jeans yang aslinya berwarna biru, kini telah berwana biru keputih-putihan dan ditambah lagi jeans itu telah robek disana-sini yang membuat Desi tambah sewot.  
“Iya gw tau. Tapi ga segitunya dong Ta, lo tuh hampir seminggu ini ke kampus ga pernah ganti celana. Selama empat semester ini gw ga pernah ngeliat lo pake tuh jeans sampe setia hari”

“Gw cuma…”
Lita menghentikan kata-katanya. Ia sedikit tertunduk sambil meraba kantung sebelah kiri. Ia menghela nafas sejenak untuk melanjutkan perkataannya.
“Gw lagi pengen pake aja. Lagi males pake jeans lain” sambil merebahkan punggungnya di pohon tepat di belakangnya. Kemudian matanya menerawang keatas menuju ranting-ranting pohon yang lebat akan dedaunan memayungi mereka dari sengatnya matahari
“Terserah lo dah, gw cuma ngasih tau aja, lo tuh perempuan, ya setidaknya berpakaian selayaknya lah”
“Iya gw tau. Cuma…”
“Iya…iya…gw ngerti deh” Desi memotong perkataan Lita yang tak ingin mendengar alasan yang sama.
Beberapa detik mereka terdiam sambil menatap gedung kampus tepat beberapa meter di depan mereka. Namun, pikiran si Desi masih merasa kesal melihat tuh jeans belelnya Lita.
Tiba-tiba, kepala Desi tumbuh dua tanduk sambil melirik robekan jeansnya Lita yang tepat di paha. Dengan cepat, Desi menarik robekan itu dengan kuat.
“Kreeeeeek”
“Rese banget sih lo!!!, tambah gede kan robekannya”
Lita langsung teriak melihat jeas kesayangannya di rusak oleh temannya itu. Lita melihat robekan itu tambah besar sampai paha atas dan terlihatlah kulit pahanya yang putih bersih.
“Biar rusak tuh jeans!!! bete gw ngeliat tuh celana!!” Desi tersenyum puas.
Tapi saat melihat ekspresi si Lita, dia malah tidak terlihat marah, dia tersenyum sambil melihat arah robekan itu yang terlihat artistik dan terlihatlah pahanya yang putih. Kemudian ia berdiri sambil memperhatikan kembali robekan itu dan menatap Desi dengan tersenyum senang.
“Gilaaa, bentuk robekannya keren banget. Terus tambah seksi aja gw pake nih jeans” sambil mencubit kedua pipi si Desi tanda ucapan terima kasih.
“Haaaah!!!” Desi langsung tersentak.
“Yup, gw mau ngaca dulu di kamar mandi, pasti tambah keren plus tambah sexy keliatan paha gw kalo diliat dari kaca. Thanks yah” ucap Lita melenggang pergi dengan melompat-lompat pelan.
“Iiiiiiiih, lama-lama gw bakar tuh jeans sama orang-orangnya!!!” teriak Desi tambah kesal.

***
Lita kini duduk terdiam di atas tempat tidur dalam kamarnya yang sedikit gelap. Dia hanya bisa melihat lampu meja belajar yang menyinari sesuatu yang ada di atas meja belajarnya. Tepat di tengah meja. Benda itu belum ia sentuh hampir selama seminggu. Tapi saat ini, ia menghela nafas dan memberanikan diri bangun dari duduknya, perlahan menuju bangku tepat di depan meja belajar. Perasaanya mulai tak karuan melihat sesuatu yang di bungkus dengan plastik transparan itu dengan dekat. Matanya mulai dibasahi oleh cairan dan kini membanjiri matanya yang kini mengalir di kedua pipinya.
Tak tahan lagi, ia mulai membalikan pandangannya dari benda itu. Ia langsung menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya sambil melepaskan emosinya yang tak bisa ia tahan lagi dengan membanjiri matanya dengan air yang melimpah dan kini membahasi seprei. Dalam penglihatan yang tertutup oleh air, Lita melihat jeans belelnya tepat di sampingnya.
Lita langsung menarik jeansnya itu dan mendekapnya dengan erat seperti tak ingin melepaskan begitu saja. Isak tangis Lita pun terdengar lirih dalam kamar itu di iringi sebuah ucapan yang keluar dari mulutnya.
“Tuhan, tolong aku”

***
“Litanya ada bu?” tanya Desi.
“Litanya lagi mandi. Masuk aja Des” jawab ibunya Lita.
“Makasih bu” Desi pun masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar mandi. Hanya beberapa detik, Desi kini tepat di depan kamar mandi sambil teriak, “Lita cepetan mandinya!! ada sesuatu buat lo nih”
“Iya bawel!!” bales Lita.
“Oh iya, buku gw mana, udah sebulan belum lo balikin.”
“Ada di meja belajar gw. ambil sendiri!!”
“Ya udah, gw ke kamar lo. Cepetan yah mandinya!!”
“Iyaaaa!!!, cerewet banget sih”
Sampai didalam kamar Lita, Desi malah disuguhnkan jeans belel yang tergeletak di tempat tidur.
“Iiiih, gila nih anak, tuh jeans sampe di kelonin juga” ucap Desi sewot.
Ia tak memperdulikan benda itu dan menuju meja belajar si Lita. Sedikit mencari, akhirnya ia mendapatkan bukunya yang terletak di ujung meja.
“Nih anak rese banget sih, sampe robek gini sampulnya” Desi pun mengeluh sambil mendumel ga karuan.
Namun, semua itu berhenti saat ia melihat sesuatu di atas meja. tepat di tengahnya. Ia langsung meraih benda itu yang terbungkus sampul plastic bening dan melihat sesuatu yang tertulis di atasnya.
“Ini kan…” Desi menghentikan kata-katanya. Ia mencoba mengingat-ingat kembali sebuah kata di benda itu sambil berjalan menjauh dari meja dan tanpa sadar ia kini duduk di atas tempat tidur.
“Ya ampun, ini kan nama…” Desi menghentikan kata-katanya lagi karena ia tak sengaja menyentuh sesuatu di sampinya.
“Iiiiiiih” ia langsung melempar jeans si Lita menjauh darinya dan jatuh di atas lantai. Jeans itu kini terlihat bagian kantung dalam sebelah kiri yang berwarna putih dan sebuah tulisan spidol yang sudah sedikit pudar terlihat oleh Desi.
Karena rasa penasaran, ia kemudian mendekati jeans itu dan memberanikan dirinya mengambil jeans itu dengan tangan satunya lagi untuk melihat lebih jelas lagi. Ternyata, tulisan itu sebuah nama dan nama itu sama dengan yang tertulis di atas kertas yang sedang ia pegang.
“Ya ampun Lita” ia mulai sadar apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu kamar yang membuat Desi kaget.
“Desi, lo ngapain megang jeans gw?” tanya Lita heran melihat temannya memegang jeans dan juga memegang surat itu yang membuat dia tersentak.
“Jadi lo belum bisa ngelupain dia?” tanya Desi to the point sambil menunjukan Jean belel itu.
“Ngomong apa sih lo?” Lita menyangkal apa yang sedang terjadi pada dirinya.
“Jeans ini dari dia kan? ” Desi bertanya lagi.
Lita tertunduk mendengar perkataan temannya itu dan ia tak sadar kembali pada masa lalu saat ia iseng menuliskan nama yang telah memberikan jeans itu. Tanpa sadar ia melangkah ke tempat tidur dan duduk terdiam. Desi langsung menghampiri temannya itu tepat di depannya dan ia melihat mata Lita yang terlihat bengkak.
“Ta, just let it go” ucap Desi sambil menjatuhkan jeans itu kelantai dan surat undangan pernikahan itu ia letakan di pangkuan Lita.
Lita kini menangis lagi melihat surat itu dan kini menatap sahabatnya yang sedang tersenyum. Desi lalu menghapus air mata dipipi sahabatnya sambil berkata, “Sudahlah, sudah saatnya kamu menyimpan jeans itu”
Lita menoleh jeans belelnya yang tergeletak dilantai. Saat Lita menengok lagi ke sahabatnya, ia melihat Desi mengeluarkan bungkusan dari tasnya dan menaruh di pangkuan Lita.
“Ini buat lo” ucap Desi.
Lita langsung membuka bungkusan yang diberikan Nita. Lita langsung tersenyum melihat isinya.
“Thanks yah” Lita langsung memeluk sahabatnya.
“Itulah gunanya sahabat” ujar Desi sambil membelai lembut rambut lita.

***
Cahaya pagi menyusup ke dalam kamar Lita dengan di iringi oleh kicau burung liar disertai hawa sejuk yang sedang mengisi rongga paru-parunya. Ia hirup udara pagi itu dalam-dalam, sekali lagi kedalam dadanya yang kini merasa ringan tanpa beban. Ia biarkan senyumnya mengembang tanpa henti seperti dilahirikan kembali.
Setelah menikmati suasana pagi itu, ia langsung membuka sesuatu yang diberikan oleh sahabatnya dan mencobanya.
“Yup, pas banget”  
Lalu, pandangan Lita melihat jeas belelnya yang tergeletak di lantai. Ia hampiri jeans itu dan ia lipat dengan rapi. Setelah itu, ia membuka lemari bajuya dan menaruhnya di tempat paling bawah. 
“Selamat tinggal” ucapnya dengan pasti sambil menutup lemari itu dengan perlahan.
“Yup, saatnya menjalani hari yang baru” ucapnya lagi dengan berjalan menjauh dari lemari itu sambil mengusap-usap jeans barunya.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>