Berbahasa Daerah Bukan Berarti “Kampungan”

“Kumaha kabarna?”, “Priben kabare?”, “Napa habar?”, “Bune haba?”.  Anda tahu semua artinya? Pasti tahu ya.. artinya sama, “Apa kabar?”

Kita sering mendengar seseorang berbicara dengan bahasa daerrah tapi tahu tidak darimana asal daerahnya? Ada yang familiar dan ada yang baru pertama kali mendengar, atau bahkan ada yang berasal dari daerah tersebut?. Itulah sebuah bukti keragaman Bahasa daerah yang ada di Indonesia. Begitu luas dan kaya  budaya  yang ada di negeri kita ini. Jika diibaratkan warna, langit Indonesia itu berhiaskan pelangi. Maka, miris rasanya jika sebagian besar orang yang mengaku berwarga Negara Indonesia masih malu menggunakan budaya daerah tempat mereka berada. Bahkan lebih bangga menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa korea yang saat ini sedang marak digandrungi remaja Indonesia.

Selain itu masih banyak pemicu lain yang menyebabnya menurunnya kecintaan pada bahasa daerah yang kemudian menjadi keengganan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Urbanisasi dan teknologi komunikasi yang meningkatkan kemampuan manusia untuk meng-akses kebudayaan tempat lain dengan mudah adalah dua faktor dominan atas fenomena ini.
Urbanisasi telah memberikan kesan bahwa kota adalah pusat segalanya. Kota adalah tempat yang tepat untuk memperbaiki taraf kehidupan seseorang. Magnet kuat ini akhirnya menarik individu-individu dari berbagai daerah untuk beradu nasib yang pada akhirnya membuat akulturasi budaya dan bahasa menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Untuk memudahkan komunikasi antar etnis maka bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam proses interaksi sehari-hari. Hidup berdampingan selama bertahun-tahun melunturkan budaya daerah asal mereka. Hal ini dirasa wajar adanya karena budaya dan bahasa berkembang dinamis sesuai dengan individu-individu penggunanya. Mereka dapat mati apabila tidak ada yang menggunakannya lagi. Hal demikian berlaku pula pada orang yang melakukan perpindahan ke tempat lain yang berbeda budaya dan bahasa.

Arus perpindahan informasi yang begitu cepat membuat dunia seperti hutan rimba. Hukum “siapa kuat dia yang akan bertahan” tidak hanya berlaku dalam bidang ekonomi saja, namun aspek budaya dan bahasa juga terkena imbasnya. Promosi budaya melalui televisi, internet, layar lebar, dan musik yang dikemas semenarik mungkin sehingga memunculkan kesan bahwa budaya tersebut “lebih baik” dan sedang trend di dunia. Dengan karakteristik orang Indonesia yang mudah terbujuk akan sesuatu yang “berkilau” maka proses pudarnya bahasa daerah semakin cepat.

Selain faktor eksternal diatas, terdapat faktor dalam masyarakat bahwa menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi dianggap “norak” atau kampungan. Lihat saja ketika ada seseorang berbicara dengan logat Jawa “medhok” atau Tegal “ngapak” sontak kita langsung tertawa merendahkan.

Cukup berbicara mengenai penyebab. Mari kita beralih pada solusi karena kita perlu menjadi generasi yang tidak hanya pandai mencari alasan dan kambing hitam tetapi juga pandai memberikan solusi. Lihatlah fakta Jepang dengan Anime-nya, Cina dengan KungFu-nya, Korea dengan K-Pop-nya, dan Malaysia dengan Upin & Ipin nya saat ini menjadi idola di Indonesia. Sementara Wayang, Tari Kecak, dan Ondel-Ondel terpinggirkan. Demikian pula remaja-remaja kita yang lebih fasih melafalkan bahasa asing dibanding bahasa daerah mereka. Maka dari itu, sekarang saatnya kita kembali BANGGA menggunakan bahasa daerah asal. Tidak harus digunakan setiap saat, minimal tidak lagi malu dan menertawakan teman kita yang berlogat daerah.

Indah bukan jika walau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia namun beragam logat. Hmm… sepertinya itu akan sangat berwarna.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>