Angpao untuk Valentine

By. Andika Sukandi

“Jiaaaah…ko hapeku di semutin sih?”
“Ya elaaah, ada-ada aja nih anak” ujar Willy sambil melihat hapeku.
Aku dan Willy telah berteman lama, namun beberapa hari ini, aku merasakan getaran yang aneh di hati jika aku dekat dengannya.
“Ya ga tau nih, ko bisa di semutin” ucapku dengan manja.
“Makanya, kalo habis makan ice cream langsung cuci tangan. Jangan langsung megang hape dong”
“Kayanya Entin tadi ga makan ice cream deh?”
“Bener kamu ga makan?”
“Mmmm…tadi Entin makan ga yah?”
“Mulai lagi deh sifat pelupa kamu”
“Iya nih” ucapku sambil tertunduk.
Inilah sifat yang paling aku benci selama ini. Sifat pelupaku yang ga sembuh-sembuh. Sudah minum berbagai macam obat penambah daya ingat, masih tetep aja ga berubah.
“Kamu udah ke dokter?” tanya Willy.
“Belum” aku langsung tertunduk.
Willy langsung bangun dari tempat duduknya yang tadi berhadapan denganku dan kini ia duduk disampingku.
“Ya udah, nanti aku temenin ke dokter deh. Takutnya kamu udah terkena gejala penyakit Alzheimer”
“Apaan tuh penyakit Alzheimer?”
“Sepanjang pengetahuan aku, itu penyakit lupa yang mulai kronis. Tapi kalau pengen jelas, coba tanya mbah Google?”
“mbah Google?”
“He…he…aku nyebut Google itu mbah, mbah Google”
“Ada-ada aja nih” ucapku “oh iya, perhatian banget sih kamu ke Entin”
“Iyalah, aku kan su…” dia menghentikan kata-katanya sambil mengalihkan kepembicaraan yang lain “sini deh, aku lap hape kamu”
Dia menyentil semut-semut yang masih berlari-lari di atas layar sambil mencari-cari sesuatu.
“Kamu ada tisu ga?”
“Kayanya ada di tas deh” kutunjuk tas yang ada di samping kirinya.
Dia mengambil tasku dan membuka kantong depan.
“Dimana kamu taro tisunya?”
“Mmmm…Entin taro mana yah?”
“Percuma aku nanya.”
“Iiiii….cari sendiri deh ah” kucubit lengannya.
“Iya…iya…”
Dia langsung membuka kantong tengah dan mulai mengacak-ngacak isi dalam tasku. Tapi, wajahnya mendadak berubah dengan ekspresi kaget, tidak percaya dan ekspresi yang terheran-heran.
“Kenapa Wil?”
Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kulihat dia malah menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil mengeluarkan sebuah benda berbentuk panjang dan terdapat banyak tombol-tombol kecil dari dalam tasku sambil berkata, “Aduuuh Entiiin. Ngapain kamu ke kampus bawa remote TV sih”
“Haaah…ko tuh remote ada di tas aku sih?”
“Aduh Entiin”
“Yaaah, bisa dimarahin mama nih. Aku ga…”
Perkataanku langsung terpotong karena terdengar suara hape dari Willy yang membuatnya tersenyum gembira. 
“Gimana?” tanyanya “sip, tapi dah keterima kan email gw?”
Willy mendengarkan perkataan dari lawan bicaranya dan ia berkata lagi. “Iya, jam dua tepat. bisa kan?”
Willy terdiam lagi. Tapi kini sambil melihatku dengan senyum yang tambah mengembang. 
“Ok sip, thanks yah. Love you full deh.” Willy menutup telfon tersebut dengan menatap ke arahku dan bertanya padaku “ko langsung cemberut sih?”
“Emang tadi siapa?” ujarku.
“Oh tadi itu Tanti, temenku waktu SMA yang ngurusin iklan-iklan di bigscreen yang ada di jalan”
“Temen apa temen?” sindirku.   
“Ha…ha…”
“Ko malah ketawa sih” ucapku sambil melotot.
Namun dia hanya tersenyum padaku sambil berkata lagi “Oh iya, besok jadi yah”
“Besok, emang besok kita mau ngapain”
“Aduuuh, kan kita udah janjian” ujarnya sambil menghela nafas.”ya udah, nanti ketemuan di tempat biasa yah”
“Besok kan hari minggu, emangnya ada apa sih?”
“Bener kamu ga inget?”
“Engga?”
“Besok kan hari …”
Namun, ia langsung menghentikan kata-katanya dengan sengaja, sambil tersenyum seperti menggodaku dan akupun menyadarinya.
“Iiiih, seneng banget sih kamu godaain Entin. Mentang-mentang Entin pelupa”
“Mmm…kasih tahu ga yah?”
“Iiiii…nyebelin banget sih. Kasih tahu dong, jangan bikin Entin penasaran”
“Mmmm….liat aja yah besok”

***
Sesampainya di lobby mall, kutengok kanan dan kiri mencari wajah si Willy setelah kuparkir mobilku di parkiran. Namun, tak kulihat kehadirannya dan entah kenapa perasaanku kepadanya mulai menguat hari ini.
“Jantungku ko berdebar-debar yah?” hatiku berkata.
Seperempat jam telah berlalu dan dia belum datang juga. Akupun mulai resah karena saat melihat jamku untuk sekian kalinya yang kini sedang menunjukan jam dua kurang 30 puluh menit.
“Ga pernah berubah yah tuh anak, dia selalu telat kalo janjian” aku menggerutu dalam hati.
Beberapa menit berselang, akhirnya dia datang dari arah pintu lobby. Dia lalu menghampiriku yang sedang memasang wajah cemberut.
“Sorry telat yah, tadi ada kucing kecebur di got, terus aku bantuin dan aku langsung bawa kerumah sakit terdekat” jelasnya.
“Udah deh jangan alasan kaya gitu. Cari alasan kaya gitu ga masuk akal tau!!” ujarku kesal.
“He..he…ya maap” ucap Willy.
“Udah cepetan, Kita mau kemana sih?”
“Ngajak kamu makan”
“Mau makan dimana?”
Kadar kekesalanku sedikit demi sedikit mulai larut karena melihat dia dengan senyum itu. Senyum yang membuatku tak berkutik di depannya. Tapi, aku belum tahu apa yang ada dibenaknya, apakah ia mempunyai perasaan yang sama padaku.
“Udah ikut aja” ajaknya.
“Tapi jangan lama-lama yah, aku mau kerumah nenekku”   
“Yup, Cuma sebentar ko, aku juga ada acara keluarga”
Beberapa detik kemudian, suara dering terdengar dari hpnya Willy dan menjawab telpon yang masuk tersebut.
“Oh, udah fix jam segitu” willy melihat jamnya “Ok deh, thanks yah”
“Kita mau makan dimana sih?” ucapku yang masih penasaran.
“Café yang di depan nih mall” tunjuk Willy sambil memasukan hape di kantongnya.
“Oh yang disitu, café yang baru dibuka?” tanyaku.
“Yup”
Kami pun langsung berjalan keluar dari mall ini dan akhirnya sampai ditempat makan yang kita tuju.
Sesampainya di cafe, Willy langsung menyapa seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.
“Gimana, rame?” tanyanya.
“Yup. lumayan lah”
“Oh iya, ini temen aku, Sony, pemilik café ini.” ucap Willy memperkenalkanku padanya.
“Entin”
“Sony”
“Tempat pesenan gw udah disiapin” tanya Willy ke Sony.
“Yup, sudah beres”
Lalu Sony mengajak kami ke tempat duduk yang sudah di pesan Willy. Sampai disana, kami langsung duduk berhadap-hadapan dan dipisahkan sebuah bangku berbentuk budar. Disana, kami dapat melihat kendaraan lalu lalang melewati café tersebut dari arah samping kami dan dapat dengan jelas melihat big screen besar disamping jalan yang seperti TV.
Willy melihat jam tangannya lagi yang kini menunjukan jam dua kurang sepuluh menit sambil bertanya padaku, “Kamu mau makan apa?”
“Mmm…apa yah?”
Aku membolak-balik daftar menu yang sedang kupegang. Sementara itu, seorang pelayan menghampiri kami.
“Mau pesen apa?”
“Menu special café ini aja. Kamu apa?”
“Sama aja deh sama kamu”
“Oke, ditunggu yah” ucap pelayan itu dengan sopan.
“Makasih”
“Tempatnya bagus yah” pujiku melihat dekorasi café yang dominan dengan warna merah dan pink. Lalu, mata ini menuju kedua matanya dan entah kenapa mata kami bertatapan satu dengan lainnya dengan pandangan yang berbeda seperti biasanya.
“Ko ngeliatinnya gitu” tanyaku sedikit tersipu.
Willy hanya terdiam mendengar pertanyaanku karena melihat tatapan mataku yang manja. Mendadak, alarm hp Willy berbunyi dan langsung mematikannya sambil berkata padaku, “ coba lihat deh tuh big screen”
“Emangnya kenapa?” aku mengikuti arah pandangnya.
“Yang bikin iklannya bisa aja yah, walaupun hanya gambar bergerak, tapi pesan yang ingin disampaikan tercapai. Walaupun tuh big screen ga ada suaranya”
“Yup, hanya dengan gambar bergerak dan tulisan, pemasang iklan bisa mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan kepada yang melihatnya dan  juga ingin membacanya”
“Seperti perasaan aku saat ini yang aku ga bisa katakan. Hanya cuma bisa dengan gambar dan tulisan”
“Maksud kamu?”
Jantungku mulai berdebar-debar mendengar kata-kata Willy. Namun, dia masih menatap big screen itu. Secara otomatis, aku melihat big screen itu lagi yang kini berubah menjadi sebuah gambar yang berbentuk amplop angpao. Ekspresi wajahku tambah berubah drastis dengan raut muka yang kaget, senang dan tersanjung karena melihat gambar angpau tersebut kini terbuka isinya dengan gambar lampion berwarna merah, berpadu dengan gambar seorang bocah yang mempunyai sayap sedang memegang panah dan busur beserta gambar hati yang berwarna pink di sekitar bocah laki-laki tersebut dan sebuah kalimat yang kunanti darinya selama ini. 
“Valentine, I love you”
Wajahku tambah merekah kegirangan. Aku tak menyangka, Willy akan mengungkapkan perasaanya dengan cara seperti ini.
“Yup. Itulah perasaan aku saat ini ke kamu” dengan lembut dia menggapai tanganku yang ada di atas meja dan meremasnya dengan penuh perasaan. Akupun menganggukan kepalaku dan dia melihatku menggerakan bibir ini yang berkata, “I love you too”
“Ko ga kedengeran sih kata-kata kamu?” tanya Willy.
“Aku juga ga bisa mengungkapkan perasaanku saat ini. Cuma gerak bibirku yang bisa aku tunjukan ke kamu, seperti halnya kamu tadi” ucapku sambil menggerakan bibir ini sekali lagi mengucapkan kata itu.
“Ehm” sebuah batuk menyela kami.
Ternyata Sony menghampiriku sambil membawa kue yang berwarna merah berbentuk seperti lampu lampion. Kulihat di tengah kue terdapat gambar hati berwarna pink dan terdapat tulisan yang menyebutkan namaku di sela-sela lilin yang menyala.
“Happy birthday, valentine” Willy membaca tulisan di atas kue itu.
“Makasih Wil”
Lagu ulang tahun mulai menggema di ruangan café ini. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku dan bertepatan dengan hari raya imlek. Aku mulai menyadari kalau dia mengajakku makan karena mencari waktu yang tepat untuk mengungkapakan prasaannya di hari valentine. Hari yang spesial untukku.
“Oke Valentine, make a wish” ujar Willy padaku.
Kupejamkan mataku dan aku tak meminta permintaan, namun mengucapkan syukur karena telah diberi kasih sayang yang berlimpah oleh orang-orang di sekitarku yang selalu memberi kasih sayangnya padaku setiap hari dan puncaknya di hari ini.
“Kayanya kalian udah jadian nih.” Ujar Sony menggoda kami.
“Ya gitu deh” ujar Willy pelan.
“Karena kalian pasangan pertama yang jadian di kafe ini. Kalian bisa makan gratis apa yang kalian pesan sekarang”
“Thank you bro”
“Makasih yah” ucapku juga.
“Sama-sama. Yang penting, ajak temen-temen lo kesini yah” ujar Sony berpromosi.
“Pastinya”
“Oke. Enjoy the food. Oh iya, remote TV ga kebawa lagi kan?” Sony meledekku.
Willy langsung tertawa mendengar perkataan temannya. Aku mulai cembetut melihat kekasih baruku ini.
“Rese nih. Kamu cerita yah ke dia?”
“He…he….”
“Ko malah ketawa sih!!?”
Perbincangan kami kini ditemani oleh musik yang terdengar membahana di café yang melantunkan lagu cinta.

***
“Makasih yah, udah nganterin Entin” ucapku.
“Sama-sama”
Willy langsung pergi meninggalkanku dan aku langsung masuk kerumah nenek yang sudah dihiasi lampu-lampu lampion berwarna merah dan berbagai macam hiasan ciri khas imlek yang biasa aku rayakan setiap tahunnya.
Saat aku masuk ke dalam, kulihat seluruh anggota keluargaku telah berkumpul. Namun, aku merasakan ketidakhadiran beberapa orang yang selalu kulihat setiap hari.
“Mama ama papa ko belum dateng?” kubertanya pada nenekku yang sedang duduk di sofa dan kini aku duduk disampingnya.
“Belum, tapi sebentar lagi nyampe ko” jawabnya “oh iya, ini buat kamu”
Sebuah amlop berwarna merah diberikannya padaku dan di ikuti oleh paman dan bibiku memberikan amplop yang berwarna sama.
“Makasih yah” ucapku.
Aku langsung teringat dengan angpao yang diberikan oleh Willy yang dipasang di bigscreen untukku. Aku langsung tersenyum tipis dan berkata dalam hati, “Terima kasih Wil, atas angpaonya” 
Tiba-tiba, kudengar suara mama dari arah pintu depan yang sedang ngedumel ga karuan dan kini masuk ke dalam ruang tamu dengan sedikit berlari, lalu duduk disampingku. Kulihat papa sedang berdiri di depan ambang pintu sedang menatap mama dan dengan refleks aku juga menatap mama.
“Kenapa sih mah, ko mukanya keliatan kesel gitu sih?” tanyaku.
“Gimana ga kesel, ayah kamu tuh…iiiih, nyebelin banget!!. Penyakitnya tambah parah aja”
“Emangnya kenapa?” aku tambah penasaran.
“Mama tuh tadi…” perkataannya terpotong karena papa kini sudah di depan mama sambil mengiba, “Mah, papa minta maaf, tadi papa bener-bener…”
“Apa sih yang papa inget!!!”
“Emangnya ada apa sih pah, mama kesel kaya gitu?” kini aku bertanya kepada papa.
Sedikit ragu-ragu, papa mulai menceritakan semuanya padaku, “ceritanya tadi gini, tadi kan papa ama mama pergi ke mall mau ngambil kue keranjang yang biasa kita pesen. Terus, papa ditelfon ama opa, kata opa disuruh buru-buru kesini, soalnya sudah pada ngumpul. Ya udah, papa langsung buru-buru balik”
“Terus?” tanyaku.
“Pas lagi dijalan, papa ditelfon. Papa langsung kaget kalau yang nelfon itu mama yang nanyain papa lagi dimana? terus dengan spontan papa langsung nengok ke bangku samping. Ternyata mama…”
“Jadi papa ninggalin mama di mall?” tebakku dengan rasa kaget.
Seluruh anggota keluargaku yang sedang berkumpul di ruang tamu, ternyata juga sedang mendengarkan pejelasan papa dan kini mereka dengan spontan tertawa lepas mendengar cerita tersebut.
“Papa ga ninggalin mama di mall, tapi papa lupa kalo tadi mama ikut. Biasanya kan kalo ngambil kue keranjang cuma papa yang ambil dan engga bareng ama mama” bela papaku.
“Ampuuun deh pah, ko bisa lupa gitu sih?” tanyaku heran.
“Emang dasar papa kamu tuh!!!” ujar mama dengan nada jutek.
“Udah-udah, jangan berantem. Kalian lupa kalau hari ini special buat valentine” ujar nenekku.
Papa dan mama langsung bertatapan. Mereka mulai menyadari kalau hari ini adalah hari yang paling spesial dalam hidupku.
“Kalau engga karena Valentine, mama ga bakalan negor papa selama tiga hari” ujar mama sambil melihatku
“Jahat banget sih mah” ucap papa.
“Biariin!!”
“Udah-udah” ujar nenekku lagi.
Beberapa detik kemudian, ekspresi mama yang masih terlihat bete, kini bertambah lagi karena melihat ke arah depan rumah. Lalu, tatapan matanya kini menatapku sambil bertanya, “Valentine, mobil kamu mana?” 
“Mobil?”
aku mencoba mengingat. Selang beberapa detik, aku berkata sambil tertawa ala merasa bersalah. “He…he…ketinggalan di mall mah. Valentine lupa kalo bawa mobil”
“Valentineeee”
“Ya maaap mah, Valentine kan lupa.” ucapku sambil melirik ayahku yang kini sedang tertawa.
“Aaaaah, bapa ama anak sama aja!!!” teriak ibuku kesal.

Biodata Penulis
Nama        : Andika Sukandi
Alamat     : Jl. Dempo III No. 138 Depok Timur.
Pekerjaan    : Mengajar di Akademi Bina Sarana Informatika.
Rekening    : 6610376787 (BCA)
Telp        : (021) 77831225
HP        : 0856 766 2687

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>